Belajar di Rumah Jadi Derita

Belajar di rumah (ilustrasi)

TERNATE –  Proses belajar dengan sistem daring dan luring yang beberapa bulan ini diterapkan di Kota Ternate, banyak mendapat keluhan dari orang tua. 

Selain, kegiatan belajar ini juga dirasakan dampaknya oleh guru. Karena dengan belajar di rumah membutuhkan pendampingan orang tua, hal ini kerap membuat orang tua harus pusing kepala dalam membantu pendampingan terhadap siswa ini. Apalagi aktifitas yang lain sudah mulai di normalkan yang membuat pembelajaran ini tidak efektif karena kesibukan orang tua.

Akibatnya, tugas yang diberikan guru itu banyak siswa yang tidak melaksanakan. “Kalau kami berikan tugas, banyak yang tidak buat. Belajar melalui zoom juga banyak yang tidak masuk. Hanya satu atau dua orang, lainnya alasan bapak dan ibunya sudah kerja. Sehingga tidak punya handphone, yang lainnya mengaku tidak punya pulsa,” keluh salah satu guru yang enggan namanya dikorankan.

Dengan kondisi seperti ini, sejumlah sekolah kemudian berinisiatif melakukan belajar tatap muka. Dengan membuat jadwal, per hari lima sampai 10 siswa, bahkan yang lain diatur per hari 4 siswa. Bahkan siswa diperbolehkan dua kali dalam seminggu datang ke sekolah, dengan tidak menggunakan seragam. 

Mereka juga diwajibkan membawa alat pendukung protokol kesehatan seperti masker dan hand sanitizer, bahkan jarak kursi di kelas juga diatur.

“Beberapa sekolah sudah jalan, tapi baru satu dua bulan. Pihak Diknas mengetahui dan memberikan surat teguran. Kalau seperti ini kondisinya, kami mau melaksanakan sistem belajar seperti apa, mestinya harus dibiarkan karena ini berkaitan dengan generasi kita ke depan,” ungkap seorang Kepsek beberapa hari lalu.

Sembari menyebut sikap Diknas ini membuat sebagian sekolah harus ngumpet dengan proses belajar, karena daring dan luring tidak efektif diterapkan. Sementara Sunarti, orang tua siswa mengaku, dirinya dengan kesibukan di kantor tidak punya waktu luas mendampingi anaknya. Berbeda dengan awal-awal pandemi covid, karena dia hanya berada di rumah tanpa aktifitas luar.

Namun setelah diberlakukan masuk kantor, dia tidak bisa lagi mendampingi anaknya membuat tugas. Karena itu, dia menghubungi kepala sekolahnya untuk anaknya tetap bersekolah. Meskipun dengan resiko.

“Saya paksa anak saya masuk. Karena saya bayar SPP setiap bulan, kalau SPP tidak bayar boleh. Terpaksa sekolah bersedia, anak saya datang sekolah seminggu dua kali disertai buat tugas. Alhamdulillah, sudah tiga bulan berjalan, anak saya tetap sehat. Kami hanya menjaga agar dia tetap konsumsi vitamin dan susu,” akunya.

Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Ternate, Mahmud J. Abdurahman menyampaikan, semua keluh kesah yang dirasakan guru, sekolah dan orang tua sudah diketahui Diknas. Dan Diknas dari berbagai evaluasi yang dilakukan, kesimpulannya belajar online ini tidak efektif lagi. Sebab semua pihak, baik guru, siswa dan orang tua telah jenuh dengan kondisi belajar yang berjalan selama 9 bulan ini.

“Tapi kami (diknas red) tidak bisa berbuat banyak. Karena putusan pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka ini, bukan dari Diknas tapi dari Gugus tugas. Sampai saat ini, gugus tugas belum memberikan status zonasi Kota Ternate, meskipun telah diminta berulang kali,” terangnya.

Mahmud menyebutkan, para guru di masing-masing sekolah saat ini, sudah paham dan siap, jika kegiatan belajar tatap muka dilakukan, dengan menerapkan sistem protokol kesehatan. Asalkan gugus tugas mengizinkan. “ Jangankan sekolah, kami di Diknas juga ingin kegiatan belajar tatap muka dilaksanakan. Tapi kewenangan mengizinkan itu bukan pada diknas, tapi gugus tugas. Kami segera rapatkan lagi masalah ini dalam waktu dekat,” katanya

Terpisah Ketua Bidang Operasi Gugus Tugas Kota Ternate Arif Gani mengaku, pihaknya tidak bisa mengizinkan kegiatan belajar tatap muka dilaksanakan, karena status zona Ternate masih oranje atau resiko sedang. Karena itu, jika diizinkan kegiatan belajar tatap muka, maka sangat berisiko.