Tongowai dan Soasio Dijadikan Kawasan Wisata Bawah Laut

Bawah Laut di Tongowai

TIDORE – Untuk mendongkrat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir, pasca pelaksanaan Sail Tidore 2021.

Kepala Loka Riset dan Kerentanan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan SDM Kementrian Keluatan dan Perikanan, Nia Naelul Hasanah Ridwan, SS, M. Soc, Sc. Meminta kepada Pemerintah Daerah Kota Tikep untuk menetapkan Kelurahan Tongowai dan Soasio sebagai pusat kawasan wisata bawah laut.

Hal itu dikarenakan dua wilayah tersebut memiliki potensi bawah laut yang bisa dimanfaatkan untuk menarik perhatian wisatawan datang menyelam. Karena selain terumbu karang yang subur, didua wilayah itu memiliki peninggalan sejarah dari bangsa-bangsa Eropa.

“Minimal dua titik ini harus dijadikan wisata selam, karena para wisatawan juga banyak yang tertarik dengan potensi bawa laut yang juga ada cerita sejarahnya,” ungkapnya saat ditemui di Penginapan Visal, pada Selasa, (30/3/21)

Selain potensi bawah laut Yang unik, kata dia, posisi dua wilayah tersebut juga sangat strategies karena memiliki paket yang sudah sangat komplit dan tidak menyulitkan wisatawan, dimana jarak yang ditempuh untuk menyelam Juga tidak terlalu jauh, sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki, selain itu untuk wisata bawah laut di Kelurahan Soasio juga berada di pusat Kota yang berdekatan dengan Benteng Tahula, Kedaton, dan Makam Sultan Nuku.

“Kalau di Tongowai itu terumbu karangnya subur dan pemandangan bawah lautnya juga sagat indah. Ini kalau dikembangkan menjadi wisata selam, maka tentu akan sangat laku untuk dijual. selanjutnya masyarakat disekitar dua wilayah itu tinggal diberdayakan, sehingga kehadiran tempat wisata, nantinya menjadi lapangan pekerjaan buat mereka,” tuturnya.

Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Nia ini menambahkan bahwa jika pemerintah mendorong dua wilayah itu sebagai spot wisata, maka tentu ada bantuan dari Kementrian Keluatan terkait dengan pengembangan Wisata Bahari. Lagipula sudah sepantasnya Tidore fokus pada wisata bahari karena posisi Tidore merupakan daerah kepulauan yang dikelilingi oleh laut.

“Kalau dari Kementrian sudah mengetahui adanya dua titik di Tidore yang bisa dijadikan Wisata Bahari, maka akan ditindaklanjuti dengan program-program terkait Wisata Bahari,” tambahhya.

Selain membicarakam soal penetapan dua wilayah tersebut untuk dijadikan Wisata Bawah Laut, Nia juga meminta kepada Pemerintah Daerah Kota Tikep agar dapat menghidupkan Museum Sonyinge Malige, pasalnya Museum tersebut harus diisi dengan galery foto potensi bawah laut dan peninggalan sejarah lainnya. Sehingga apabila wisatawan yang datang berkunjung mereka sudah tau spot-spot mana saja yang akan dikunjungi untuk berwisata.

“Kami dari Badan Riset akan membantu pemerintah untuk menyiapkan papan informasi terkait dengan potensi bawah laut di dua wilayah itu, selain itu kami akan membuat galery foto serta video mengenai keindahan bawah laut untuk dipajang di Museum. Jadi tugas kami di Tidore ini hanya sebatas menggali potensi bawah laut milik Tidore beserta sejarahnya, selanjutnya tinggal dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kota Tikep,” tandasnya. (ute)