SANANA – Tak disangka, Salma Upara (45) harus kehilangan rumahnya sebanyak dua kali. Pada tahun 2008, banjir besar yang menimpa lima rumah warga Desa Baleha, Kecamatan Sulabesi Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), satu rumah diantarnya adalah milik perempuan tujuh anak. Kali ini, perempuan pembuat tikar tradisional itu kembali merasakan kehilangan rumahnya. Senin (10/2) pukul 22.00 Wit, rumah Salma dilahap oleh sijago merah entah dari mana asalnya. Akan tetapi, api itu mulai dari dapur hingga ke ruang tengah.
Salma menceritakan, sebelum kejadian naas itu terjadi, mereka sekeluarga semuanya berada di rumah. Mereka masih sempat memasak dan makan malam.
Tepat pukul 20.00 Wit, mereka semua ke rumah saudaranya di ujung desa yang sedang sakit. Mereka tidak hanya menjenguk, tetapi sekaligus nginap di rumah saudaranya itu. Tiba-tiba, lanjut Salma dengan raup wajah masih sedih itu, ada saudaranya yang datang ketuk pintu rumah, mereka membuka pintu dan saudaranya itu menyampaikan bahwa rumah Salma terbakar.
Salma bersama keluarga itu buru-buru ke rumahnya, tetapi si jago merah tak bisa dihalangi lagi. Sebab, warga yang membantu memadamkan api sangat kesulitan mendapat air untuk memadamkan, sebagian warga mengambil air laut untuk memadamkan api.
Kobaran api kurang lebih 2 jam itu, kata Salma, barang-barang mereka yang ada di dalam rumah tak ada yang bisa diselamatkan. Semuanya hangus terbakar. “Semua barang-barang kami tidak ada yang selamat, semuanya hangus, sekarang tinggal pakaian di badan yang mereka kenakan,” kata Salma saat ditemui wartawan di depan rumahnya yang sedang dipasang tenda, Kamis (13/2). Sebelumnya, Salma menambahkan, mereka mendapatkan musibah pada tahun 2008. Waktu itu, banjirnya begitu besar, rumah mereka juga tepat di dekat kali mati. Tapi, air yang keluar begitu ganas, sehingga ada lima rumah yang tertimpa. “Dari lima rumah itu, kami punya yang paling parah, tak ada satu yang tersisa, semuanya terbawa oleh air,” bebernya. Untuk kali ini, lanjut perempuan yang menjadi punggung keluarga bagi tujuh anaknya itu, dia sendiri tidak tahu apa penyebab, sehingga terjadi kebakabar. Padahal, jika mau bilang dari dapur, sebelum mereka keluar dari rumah, api yang masih menyala di tungku sudah dimatikan oleh anak perempuannya. “Saya sendiri tidak tahu apa yang membuat terjadinya kebakaran, sebelum keluar api yang masih menyala di tungku sudah dimatikan, tapi orang-orang bilang api bermula dari belakang. pagar belakang juga hangus terbakar,” beber Salma.
Mau tidak mau Salma harus nginap di rumah adiknya untuk sementara waktu. Rumah yang sekarang terbakar itu, kata dia, dibangun atas sedikit bantuan dari mantan Bupati Kepsul Ahmad Hidayat Mus (AHM).
“Kemarin dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kepsul ada datang menemui kami, mereka memberi sedikit bantuan, yaitu beras 1 karung, mie instan 1 carton, tikar pelastik, kain panas, peralatan dapur dan sedikit pakaian,” bebernya.
Pasca kebakaran, Pemkab Kepsul melalui Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan bantuan berupa beras, mie instan, tikar, kain panas, peralatan dapur dan pakaian. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kepsul, Hendra Erawan Umabaihi mengatakan, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan dinas terkait. “Untuk saat ini kita baru berikan sedikit bantuan dari Pemkab,” katanya.
Sementara Kadinsos Rifai Masuku mengaku tidak akan tinggal diam dengan bencana yang terjadi. Dia berjanji bakal merenovasi rumah berdasarkan program yang ada. “Pemkab tetap ambil langkah,” janjinya. (nai)


Berikan Komentar pada "Dua Kali Salma Kehilangan Rumah"