Pemkab Morotai Siapkan Kurikulum Bahasa Tobelo dan Sanger

Ujang Bagindo

DARUBA – Selain bahasa Galela, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pulau Morotai juga akan memasukan bahasa Tobelo dan Sanger dalam kurikulum muatan lokal baik di tingkat PAUD, SD dan SMP. 

Hal Ini diungkapkan, Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar, Dikbud Pulau Morotai, Ujang Bagindo.  Menurutnya, pengembangan pelestarian budaya daerah khusus di Morotai, sudah diakui dalam Peraturan Daerah (Perda) menjadi landasan pijak di Pemerintah daerah yakni Bahasa Galela, Bahasa Tobelo dan Bahasa Sanger dan akan diimplementasikan secara bertahap.

“Nah, konsep tentang pengembangan dan muatan standar isi sampai dengan masuk pada perumusan, kemarin sudah bekerja sama dengan salah satu fakultas di Unkhair. Nanti diterapkan di tingkat PAUD, SD dan SMP dan saat ini kita lagi mendorong. Tiga bahasa ini masuk pada keberagaman suku di Morotai, saat ini masih bahasa Galela sudah disiapkan perangkat pendukung bahan ajar lain terus kita buat berkesinambungan biar capaian target dan sasaran bisa maksimal,” papar Ujang, Selasa (15/2/2022). 

Hanya saja, kata Ujang, yang akan dihadapi kedepan adalah kekhawatiran mengenai Sumber Daya Manusia (SDM). “Kita khawatir ke depan kesulitan SDM, karena ketika serentak kita terapkan maka SDM ini kita harus siapkan untuk guru, jadi menjadi guru tidak mudah. Ini penting, jadi kita harap ada pembekalan ditingkat muatan lokal mulai dari bahasa daerah sampai pada tingkat seni dan tradisi, sehingga ada kesamaan pengetahuan nilai budaya yang akan dikembangan di muatan lokal terutama metodologi anak-anak usia dini,” tuturnya. 

“Selain itu, kita belum mendapatkan konsep jelas, apakah bahasa daerah itu menggunakan konsep bahasa daerah kekinian atau seperti apa, otomatis identifikasi berbagai pengikut penutur masih ada sehingga menyempurnakan kaitan dengan kosa kata,” sambung Ujang.  Dia menambahkan, untuk pendanaan program ini, baru akan disiapkan di tahun 2023 mendatang. 


“Untuk pendanaan nanti tahun depan kita alokasikan lewat APBD untuk di implementasi, pasti kita harus mencari guru-guru punya kompetensi seni dan tradisi dan sastra bahasa daerah yang baik, target dari tiga bahas itu bisa diterapkan agar anak-anak bisa tahu betul bahasa lokal dan budaya di Morotai,” tutup Ujang. (fay)