TERNATE– Sejumlah sekolah yang ada di tiga kecamatan di luar pulau Ternate yakni Moti, Hiri dan Batang Dua butuh perhatian dari Pemkot Ternate, karena kondisi bangunan sekolah sudah rusak sehingga memerlukan perbaikan bahkan bangun baru.
Kelemahan dan minimnya bantuan ke tiga kecamatan itu karena kesalahan dalam melakukan penginputan data pokok kependidikan (Dapodik) oleh operator sekolah, termasuk di kecamatan batang dua.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate Muslim Gani mengatakan, pihaknya dalam kunjungan ke kecamatan batang dua beberapa waktu lalu telah mengunjungi sejumlah sekolah baik PAUD, SD dan SMP yang ada di batang dua, untuk melihat kondisi bangunan sekolah yang ada di sana.
Dan ditemukan kalau sejumlah bangun sekolah sudah sangat layak untuk di lakukan perbaikan baik itu rehab ringan sampai bangun baru.
“Setiap tahun ada bantuan dari Dinas Pendidikan baik melalui DAK maupun DAU, atau APBD itu memang ada tapi belum seberapa dengan kerusakan gedung-gedung yang ada di sana,” katanya Senin (7/3/2022).
Bahkan dia menilai, untuk proses pembelajaran di kecamatan batang dua sudah harus di transformasikan ke digital, dan hal ini membutuhkan bantuan sarana prasarana penunjang termasuk di Moti dan Hiri.
“Karena kita mau buat AKM yang itu seharusnya butuh laboratorium, disana juga masih minim sekali dan perlu bantuan,” ungkap dia.
Menurut Muslim, minimnya bantuan berupa sarana pedidikan ke tiga daerah terluar itu disebabkan karena penginputan dapodik oleh operator sekolah, ini sesuai dengan hasil evaluasi di internal Dinas Pendidikan. “Karena sekolah yang mendapat bantuan DAK jika di input di dalam dapodik, sementara data yang di input itu kevalidannya kurang maksimal, ini karena rata-rata sekolah di tiga kecamatan terluar dalam pengisiannya hanya mencentang tanda baik atau layak, padahal kondisi di lapangan sekolah ini harus dilakukan rehab ringan, berat bahkan ada yang bangun baru,” bebernya.
Kelemahannya ini terjadi kata dia, karena para kepala sekolah dan operatornya tidak mendapat pendampingan dari konsultan bangun, sehingga tidak mengetahui kualitas setiap bangunan.
“Saya setelah balik dari kunjungan itu mereview kembali hasil lapangan dengan bagian perencanaan, dan Dapodik. Bahkan sudah saya panggil semua kepala sekolah untuk dilakukan sosialisasi tata cara penginputan data Dapodik, ini agar nanti bisa dipahami, bahwa ternyata menginput Dapodik itu tidak hanya sekedar valid saja, tapi harus berkualitas. Supaya bisa mendapat bantuan dari pusat melalui DAK,” jelasnya.
Menurutnya, bagian perencanaan dan operator Dapodik Dinas Pendidikan Kota Ternate selalu standby untuk memberikan pendampingan terhadap operator sekolah dalam melakukan penginputan dapodik nanti, yang batasnya sampai 31 Maret.
“Tahun ini kita mulai perbaiki, sehingga DAK dari APBN pusat itu harus masuk ke daerah. Untuk mendapatkan itu, Dapodik yang kita input harus berkualitas,” tegasnya.
Kerusakan bangunan sekolah itu juga disampaikan Kepala SMP Negeri 8 Kota Ternate Amor Sakti. Dia menyebut, pihaknya kini sangat butuh perhatian dari Pemkot Ternate, karena salah satu bangunan di sekolah tersebut yang diperuntukan bagi UKS dan BK kini dalam kondisi rusak berat dan belum ada perbaikan.
“Sehingga kita alihkan sementara ke kantor, dimana ruang perpustakaan kita manfaatkan untuk itu,” katanya kepada Fajar Malut.
Selain itu ruang guru juga kata dia, butuh perbaikan karena gedung itu dibangun sejak tahun 1994 yang hingga kini tidak ada renovasi sehingga kondisinya juga telah rusak.
“Kami butuh perbaikan karena ruang guru itu ditempati juga guru yang berasal dari luar batang dua sehingga dibutuhkan renovasi, agar mereka bisa betah. Kami juga butuh pagar sekolah, karena sampai saat ini belum ada pagar sekolah sehingga binatang sering masuk sampai ke areal sekolah,” pintanya.(cim)

