Kejadian Gempabumi di Maluku Utara Cukup Tinggi

Taufan Taufik

Staf Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Jakarta

Belum lama ini gempabumi merusak terjadi di daerah Mamuju, Sulawesi Barat dengan magnitudo 5.8 yang mengakibatkan puluhan rumah rusak dan belasan korban luka-luka. Kejadian ini mengingatkan akan gempabumi kuat yang terjadi pada januari tahun 2021 di Mamuju dengan menyebabkan 84 korban jiwa ratusan luka berat dan ringan. Dengan kejadian gempabumi ini masyarakat menjadi resah dan khawatir, apalagi beredar informasi yang tidak jelas bersumber dari mana datangnya.

Gempabumi merupakan fenomena alam yang hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan akan terjadi. Paradigma-paradigma banyak yang berkembang di tengah masyarakat tentang fenomena gempabumi. Sehingga masih banyak masyarakat gampang terpengaruh oleh isu-isu ataupun berita tentang kejadian fenomena gempabumi dapat diprediksi. Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) adalah sebuah lembaga pemerintahan yang berfungsi memberikan pelayanan dan informasi yang berkaitan dengan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Salah satu tugas BMKG yaitu melakukan pengamatan tentang kejadian gempabumi yang ada di wilayah Indonesia serta kejadian gempabumi di luar negeri.

Selama periode bulan mei tahun 2022 kejadian gempabumi yang tercatat di wilayah Indonesia lebih dari 1000 kejadian gempabumi. Kejadian-kejadian gempabumi yang terjadi mayoritas disebabkan karena adanya kativitas lempeng tektonik yang ada disekitar wilayah Indonesia. Hasil pengamatan yang dilakukan BMKG pada bulan mei gempabumi banyak terjadi di daerah Nusa Tenggara Barat dengan intensitas kejadian sebanyak 625 gempabumi.

Gempabumi Maluku Utara,

Wilayah Maluku utara sendiri sangatlah unik, dikarenakan daerah Laut Maluku merupakan daerah konvergensi dari tiga lempeng litosfer utama yaitu Lempang Eurasia, Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Indo-Australia. Daerah Laut Maluku adalah contoh yang unik dari penutupan cekungan samudra sebagai akibat dari tabrakan dua busur samudra, yaitu Busur Halmahera dan Busur Sangihe (Widiwijayanti dkk, 2004). Kompleksitas yang cukup tinggi di daerah Maluku Utara disebabkan karena adanya lempeng-lempeng kecil yang terbentuk akibat pecahan dari lempeng besar yang terjebak diantara lempeng-lempeng utama yang saling bertemu.

Periode bulan mei di wilayah Maluku Utara tercatat sebanyak 133 kejadian gempabumi dengan empat kali gempabumi dirasakan. Daerah Maluku Utara merupakan daerah yang aktif akan kegempaan yang terjadi, hal ini nampak jelas dengan banyaknya gempabumi kecil yang terjadi di wilayah ini. Bila dilihat dari hasil pengamatan yang dilakukan mayoritas gempabumi yang terjadi mempunyai kekuatan kurang dari magnitudo lima yaitu sebanyak 130 gempabumi dari total 133 kejadian gempabumi atau sebanyak 97,7%. Bila diperhatikan berdasarkan kedalaman sumber gempabumi yang terjadi sebanyak 79,7% atau 106 gempabumi mempunyai kedalam yang dangkal kurang dari 60 km. Berdasarkan peta sebaran episenter gempabumi yang terjadi pada bulan mei, kejadian mayoritas berada di Laut Maluku.

Historis Kegempaan Kuat dan Merusak,

Jika melihat selama satu dekade kebelakang kejadian gempabumi kuat dan merusak yang terjadi di Maluku Utara setidaknya ada 18 kali kejadian. Gempabumi kuat dan merusak tersebut ada yang sampai menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan serta menyebabkan terjadinya tsunami di sekitar Maluku Utara. Kejadian gempabumi yang menimbulkan korban jiwa terjadi pada 18 november 2017 dengan magnitude 5.7 yang berlokasi di 37 km BaratLaut Morotai. Gempabumi ini dirasakan di Morotai dengan intensitas IV MMI dan memakan satu korban jiwa.

Gempabumi yang menyebabkan terjadinya tsunami terakhir kali tercatat pada tanggal 14 november 2019 dengan magnitudo 7.1 yang terjadi di Laut Maluku 137 km BaratLaut Jailolo. Tsunami yang terjadi terdeteksi di alat pemantau yang ada di kota Bitung dan Jailolo dengan ketinggian tsunami 0,1 m. Gempabumi yang berpotensi tsunami kecil ini ternyata cukup membuat masyarakat panik.

Hal demikianlah yang harus kita sadari tentang pentingnya memahami informasi yang kita diterima. Terkait potensi tsunami yang terjadi dengan status waspada, siaga ataupun awas. Bila masyarakat memahami akan status potensi yang akan terjadi tentunya masyarakat dapat merespon informasi tersebut dengan bijak.(*)