WEDA – Pernyataan Dr. Mukhtar Adam dianggap salah menyimpulkan terkait komentar Bupati Halteng terkait passing grade yang disuarakan Bupati Halteng Edi Langkara dalam forum APKASI beberapa waktu lalu.
“Menurut saya Dr. Mukhtar Adam salah menyimpulkan komentar Bupati Edi Langkara yang mempersoalkan passing grade CPNS,” ucap Munadi Kilkoda Ketua Fraksi Nasdem Halteng.
Menurut Munadi, komentar itu merepresentasi kondisi dan realita yang dialami generasi di Maluku Utara. Dan kalau dipahami secara tersirat, sebenarnya Edi Langkara sedang menggugat negara untuk dapat segera mengatasi ketimpangan pembangunan termasuk pada sektor pembangunan SDM, yang selama ini cenderung Jawasentris.
“Sementara wilayah diluar Jawa cenderung lambat berkembang karena intervensinya berbeda. Itu kan yang selama ini kita tantangkan,” sebut Munadi.
“Kita dituntut untuk kompetitif, namun pada sisi yang lain kita belum siap, kualitas SDM kita masih dibawa rata-rata, itu tidak perlu kita nafikkan. Saya kira pa doktor juga tahu soal itu,” katanya.
Disaat yang sama sistem rekrutmen CPNS dengan standar kelulusan berdasarkan passing grade mengharuskan kita kompetitif dalam segala bidang. Ini letak problemnya.
Namun menurutnya yang perlu digaris bawah Dr. Mukhtar Adam adalah passing grade itu bukan satu-satunya standar SDM di Halteng baik atau tidak. Sehingga tidak tepat kalau menyimpulkan komentar Bupati sebagai bentuk pengakuan terhadap rendahnya kualitas SDM di Halteng. “Buktinya IPM Halteng masih lebih tinggi dari daerah lain,” jelasnya.
Passing grade tidak bisa menjadi standar, karena dalam banyak kasus ada daerah yang IPMnya berada di urutan pertama, tapi angka kelulusan berdasarkan passing grade tidak seberapa. “Lalu apakah itu menunjukan kualitas SDM di wilayah itu anjlok. Kan tidak juga,” katanya.
“Jadi sekali lagi, komentar Bupati itu harus dibaca menggunakan kacamata yang rasional, tidak serampangan sebagaimana disampaikan doktor mukhtar. Usulan dia untuk membuat kursus CPNS saya setuju soal itu dan berharap Pemda bisa menginisiatif segera,” sebutnya.
Sementara permintaan dia supaya memberi kuliah ke Pemda dan DPRD Halteng. “Menurut saya doktor kelebihan percaya diri bisa menuntaskan masalah ini. Kelebihan percaya diri itu juga menunjukan keangkuhan dan kesombongan intelektual yang dipertontonkan oleh pa doktor. Itu tidak etis sebagai seorang akademisi,” paparnya.
Dia harus sadar masalah ini tidak segampang membalikan telapak tangan, tidak segampang seperti penglihatan beliau. “Tapi kalau beliau mau memberikan masukan untuk perbaikan kebijakan, saya percaya Pemda Halteng pasti welcome,” tutupnya. (udy)

