DLH Tidore Minta PLTU Buka Komunikasi Dengan Warga

Kunjungan ke PLTU RUM

TIDORE – Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan, melalui Tim Terpadu Penanganan Dampak Debu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tidore, yang diketuai oleh Staf Ahli Walikota Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan, Abdul Hakim Adjam bersama rombongan meninjau langsung aktifitas PLTU terkait dengan penanganan dampak debu batubara yang kerap dikeluhkan oleh warga kelurahan Rum Balibunga, Kecamatan Tidore Utara.

Kunjungan terpadu itu, untuk memastikan langkah-langkah yang telah dilakukan pihak PLTU dalam rangka penanganan dampak batu bara, beserta memastikan di tengah-tengah masyarakat terkait adanya debu batu bara.

Namun dalam kunjungan tersebut, PLTU telah melakukan penanganan dampak debu batu bara, sehingga sudah dua bulan terakhir ini tidak lagi terjadinya debu seperti sebelumnya.

“Setelah kami kroscek, ternyata mereka sudah menggantikan bek filter. sehingga debu batu bara sudah tidak lagi keluar melalui cerobong, olehnya itu kami minta kepada PLTU agar menyediakan cadangan bek filter, sehingga ketika terjadi abnormal itu mereka sudah bisa menggantikan secara langsung tanpa harus menunggu lama, dan ternyata mereka juga sudah menyediakan stoknya,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore, Muhammad Sjarif, saat ditemui di kantornya, usai melakukan kunjungan ke PLTU, Rabu, (27/7/22).

Sjarif menjelaskan, jika dalam situasi normal, maka PLTU berkewajiban menggantikan bek filter (penyaring debu) dalam kurun waktu tiga bulan sekali atau enam bulan sekali.

“PLTU punya dua tungku (Boiler), masing-masing boiler itu harus dipasang Bek Filter, jadi sudah dilakukan demikian, maka debu sudah tidak lagi lolos melalui cerobong, karena sudah ditahan oleh bek filter,” tuturnya.

Selain itu, PLTU juga telah melakukan penanganan dengan menggunakan alat water spray, alat ini berfungsi untuk menyemprot debu yang nantinya naik melalui cerobong untuk tidak keluar bersamaan dengan asap dari pembakaran batu bara, dan hal itu telah mereka lakukan, sehingga saat ini, sudah tidak ada debu, melainkan sebatas asap.

“Untuk mengantisipasi terjadi kondisi abnormal sehingga harus dilakukan penurunan beban yang berakibat terjadi pemadaman di Tidore maupun Ternate, dari pihak PLTU juga sudah mendatangkan mesin diesel dengan ukuran 10 Mega Watt yang ditempatkan di Ternate, mesin ini akan membantu penerangan listrik di Tidore dan Ternate apabila terjadi penurunan beban di PLTU,” jelasnya.

Untuk itu, Sjarif berharap, agar kedepannya PLTU dapat membangun komunikasi dengan masyarakat melalui Pemerintah Kelurahan, apabila terjadi situasi abnormal. sehingga warga yang berada di areal tersebut dapat bersiaga untuk mengantisipasi debu yang keluar dari cerobong dan jatuh di rumah mereka.

“Soal kebisingan mesin, sejauh ini masih dalam batas normal, olehnya itu kami akan terus memantau aktifitas PLTU, agar tidak lagi berdampak di masyarakat,” tegasnya. (ute)