Pernyataan Syamsul Rizal Terus Mendapat Kecaman

Noval Adam

TIDORE – Pernyataan Syamsul Rizal Hasdy yang diduga menghina warga Oba dan Sangir, terus menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat. 

Noval Adam, salah satu anak adat Tidore, menegaskan, pernyataan yang disampaikan Syamsul dalam acara silaturahmi di Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, pada Jumat, (23/09/22) malam, merupakan wujud nyata bahwa yang bersangkutan tidak pantas memimpin Tidore.

Hal itu membuat Syamsul, dianggap telah mendikotomi Pulau Tidore dan wilayah Oba. Padahal Tidore dan Oba adalah sebuah wilayah yang berada dalam satu kesatuan Pemerintah Kota Tidore maupun Kesultanan Tidore. 

Selain itu, Syamsul juga dianggap tidak mampu melindungi semua golongan masyarakat yang berkecimpung di Kota Tidore Kepulauan, itu dibuktikan melalui pernyataan yang dilontarkan Syamsul.

“Sebagai calon pemimpin, pernyataan Syamsul telah menunjukan dia tidak memahami Tidore secara utuh, sehingga dengan mudah ia menjustice suku Sangir yang ada di Oba,” pungkasnya. 

Noval bilang, Tidore adalah daerah yang menjunjung tinggi adat seatoran serta semangat bertoleransi antar umat beragama maupun antar golongan. Bahkan semangat ini terus digelorakan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dibawah Kepemimpinan Walikota, Ali Ibrahim dan Wakil Walikota, Muhammad Sinen. 

Seharusnya, Syamsul yang merupakan bakal calon pemimpin, bisa mengambil contoh dan belajar dari Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen, tentang rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama, bukan malah membuat masyarakat nantinya terpecah belah akibat rasisme terhadap golongan tertentu. 

“Sikap yang ditunjukan Syamsul ini, bukan saja menghina warga oba, tetapi juga menghina orang Tidore, karena orang-orang yang tinggal di Oba, itu sebagian besar asalnya juga dari Tidore, bahkan beragam suku yang berdomisili di sana, baik itu Makian, Bugis, Tobaru dan lain-lain,” jelasnya. 

Untuk itu, sebagai anak adat Tidore, Noval mengutuk keras pernyataan Syamsul yang diduga telah menghina, bahkan ia mendesak pihak kepolisian agar segera menangkap Syamsul Rizal, karena dianggap telah memprovokasi masyarakat untuk kepentingan politik pada tahun 2024 mendatang. 

“Kalau Syamsul hadir dengan gagasan dan tutur kata yang baik kita hargai, tetapi kalau cuma sebatas menghina orang lain, maka itu sudah keterlaluan dan harus diproses secara hukum, apalagi dia merupakan bakal calon pemimpin, jika dibiarkan, maka berbahaya untuk Kota Tidore, karena dia akan mengulang kesalahan yang sama dengan mendiskriminasi golongan yang mungkin dia tidak suka dengan mereka, sementara semua warga masyarakat yang ada di Indonesia khususnya Tidore, dijamin hak hidupnya lewat undang-undang,” pungkasnya. 

Senada disampaikan Syofyan Muhlis, salah satu Pemuda Mafututu, ia menilai pernyataan Syamsul yang diduga menghina orang Oba dan suku Sanger adalah sebuah pernyataan yang tidak etis. Sehingga diri berpandangan bahwa Syamsul memang sosok yang tidak layak untuk masyarakat Kota Tidore. 

“Belum jadi pemimpin saja dia sudah menciptakan kegaduhan dengan menghina golongan tertentu, lantas bagaimana jika dia sudah jadi pemimpin. Bagi saya, Ini contoh buruk, dan tidak boleh ditiru oleh calon-calon pemimpin lainnya. Karena biar bagaimanapun, kita ini semuanya diberikan hak yang sama untuk hidup di pangkuan NKRI,” tandasnya. 

Sofyan yang juga merupakan mantan Ketua Pemuda Generasi Muda Mafututu (Gamutu), mengecam pernyataan Syamsul dan mendukung pihak kepolisian untuk bertindak cepat memproses yang bersangkutan. Hingga berita ini di publish Syamsul Rizal belum berhasil dikonfirmasi, bahkan chat pribadi Syamsul Rizal di medsos juga belum direspon. (ute)