- Buntut Ketidakhadiran Wawali Dalam Setiap Kegiatan
TERNATE – Momentum Hari Jadi Ternate (Hajat) ke 772 mestinya dijadikan sebagai momentum untuk refleksi perjuangan pada tahun 1250. Namun momentum ini nampaknya tidak diseriusi Pemkot Ternate, ini dibuktikan dengan ketidakharmonisan kedua pucuk pimpinan di Pemkot Ternate antara Wali Kota M. Tauhid Soleman dan Wakil Wali Kota Ternate Jasri Usman.
Bahkan dibeberapa kali agenda DPRD tidak pernah dihadiri Wakil Wali Kota Ternate Jasri Usman, hal ini memicu DPRD untuk mengisiniasi menggunakan hak interpelasi, langkah itu dilakukan untuk meminta penjelasan Wali Kota M. Tauhid Soleman terkait hal tersebut, sinyal interpelasi ini datang dari Anggota DPRD daerah pemilihan (dapil) Pulau Ternate Zainul Rahman, usai paripurna Hajat ke 772 pada Kamis (29/12/2022) kemarin.
Zaenul menyebutkan, interpelasi ini dilakukan dalam rangka meminta penjelasan pemerintah secara resmi mengenai alasan Wakil Wali Kota Ternate Jasri Usman tidak lagi menghadiri agenda resmi pemerintah, termasuk rapat paripurna Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke 772.
“Tentu kita belum mendapatkan penjelasan resmi. Tapi saya mengusulkan ke teman-teman DPRD untuk gunakan hak interpelasi untuk meminta keterangan resmi dari Kepala Daerah soal ini,” tegasnya.
Meski begitu kata Zaenul, hak interpelasi ini bisa jalan kalau ada kesepekatan resmi dari DPRD, namun dirinya akan tetap menginisiasi hal tersebut.
“Tentu ini butuh kesepakatan secara kelembagaan, tapi minimal akan kita coba usulkan itu. Saya akan mencoba menginisiasi dan mengusulkan itu untuk meminta keterangan resmi kepala daerah terkait hal-hal strategis yang tidak tergambar dalam LKPJ setiap tahun,” sambungnya.
Sebab menurut politisi Demokrat ini, ketidakhadiran Wakil Wali Kota Ternate Jasri Usman dalam setiap agenda resmi Pemerintah Kota Ternate tidak dijelaskan secara rinci dalam setiap laporan LKJP.
Kita sebenarnya sudah menyarankan banyak hal baik lewat rapat resmi, maupun lewat media, tapi kan tidak digubris artinya tidak ada penyelesaian. Saya melihat momentum Hajat ini adalah momentum sejarah dari refleksi para momole berbesar hati, makanya ini juga menjadi catatan untuk mereka berdua, apakah masih TULUS atau sudah tidak. Apakah bisa di ANDALKAN atau tidak.
Anggota DPRD Ternate, Zaenul Rahman
Zaenul menjelaskan, perayaan Hajat ke 772 ini merupakan merupakan momentum merefleksikan kebesaran jiwa pemimpin terdauhulu dalam mengintegrasikan wilayah kekuasaanya.
“Hari Jadi Ternate ini kan mengenang tahun 1250, saat itu penguasa lokal berembuk, dan mengintegrasikan wilayah kekuasaanya dengan mengangkat satu orang Raja atau Sultan yang bertahan hingga hari ini. Itu artinya, ada kebesaran jiwa pemimpin lokal saat itu untuk bersatu membangun Negeri. Kemudian tanggal 29 itu tanggal dimana Sultan Babbullah dan para rakyatnya berhasil menghalau atau mengusir penjajah keluar dari Negeri Ternate. 29 Desember dan 1250 itu dua momentum yang berbeda,” jelasnya.
Mestinya kata dia, pada momentum ini, kedua pemimpin bisa duduk bersmaan memperingati hari besar bagi warga Ternate.
“Ini seharusnya jadi momentum untuk kita berbenah dan memperbaiki, yang dalam sejarah 4 momole mereka berbenah untuk memperbaiki di Fora Madiyahi (Fowaro madiahi). Fowaro Madiahi dulu baru Tara No Ate (turun dan merangkul). Pada momentum ini, di level top down Pemerintah spirit itu hilang,” tegas
Ia berharap, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate dapat berbesar hati menyelesaikan masalah internal tersebut. “Ini kan butuh kebesaran jiwa dari para pemimpin dalam hal ini Walikota dan Wakil Wali Kota. Kemarin kan kita memilih pasangan calon, bukan perorangan. Masa dua orang kok sekarang tinggal satu, yang satu di acara-acara resmi jarang terlihat, ini kan sangat disayangkan, lantas apa yang diamanahkan rakyat Ternate itu dikemanakan, jadi kita akan gunakan hak interpelasi untuk meminta penjelasan resmi dari pemerintah,” tegasnya, hingga berita ini dipublish Jasri Usman belum dapat dikonfirmasi terkait ketikhadirannya dalam paripurna Hajat ke 772.(nas)

