TERNATE – Pandara Kananga salah satu pusat kuliner yang berada di pesisir pantai Kelurahan Makasan Timur pada Selasa (25/7/2023), diresmikan Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, yang dihadiri Forkopimda, Kepala BPPW, Sekda dan Pimpinan OPD di Pemkot Ternate. Peresmian ini ditandai dengan penandatangan prasasti pada acara penyerahan pengelolaan asset kegiatan optimalisasi pengingkatan kualitas pemukiman kumuh dan peresmian anjungan kuliner Pandara Kananga.
Pembangunan pusat kuliner Pandara Kananga ini sebagai salah satu program penataan kawasan kumuh di Makasar Timur hasil kolaborasi Pemkot Ternate dengan Kementrian PUPera melalui Balai Prasarana dan Pemukiman Wilayah (BPPW) Malut.
Kepala Disperkimtan yang juga Ketua Pokja Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Ternate Muhammad Syafie mengatakan, anjungan kuliner Pandara Kanangan ini nantinya akan ditempati 32 pedagangan, dan pembangunan anjungan ini sebagai salah satu upaya Pemkot Ternate untuk penanganan kumuh kawasan Makasar Timur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan kumuh secara keseluruhan di Kota Ternate, dimana kata dia, sejak tahun 2017 luasan kumuh di Kota Ternate sekitar 61 hektar turun di tahun 2018 menjadi 53,35 hektar, kemudian di 2019 turun menjadi 33,31 hektar, dan pada tahun 2020 menjadi 31 hektar.
“Namun pada tahun 2021 ada penambahan kawasan kumuh karena ada penambahan tiga kecamatan yakni kecamatan Pulau Ternate, kecamatan Pulau Moti dan kecamatan Pulau Hiri, jadi kawasan kumuh yang tinggal 31 naik drastis menjadi 287,40 hektar. Ini bukan karena semakin kumuh tapi ada penambahan kawasan yang kita coba tangani,” katanya.
Menurutnya, pada tahun 2022 kawasan kumuh itu mengalami penurunan 268 hektar. Dan khusus untuk kelurahan Makasar Timur telah dilakukan pendampingan, perencanaan mulai dari tahun 2018, dan pelaksanaan fisiknya mulai dilaksanakan pada tahun 2019. “Angka kekumuhan di Makasar Timur dengan skor awal nilai 42 dengan kategori tingkat kekumuhan sedang dengan luasan kumuh 10,55 hektar,” ungkapnya.
Dan untuk penataan kawasan Makasar Timur ini kata dia, Pemkot Ternate di tahun 2019 menganggarkan item pekerjaan timbunan dari APBD, penataan jalan lingkunan dan pemukiman, kemudian pembuatan kanal disisi barat anjungan dan tambatan perahu yang bersumber dari APBN, dengan jumlah anggaran dari APBD sebesar 6 miliar. Kemudian pemerintah pusat di tahun 2019 melalui DAK regular BPPW menganggarkan 10.472.000.000 kemudian di tahun 2022 melalui Kotaku sebesar 21.407.162.700 dan ditahun 2023 sebesar 3 miliar untuk finishing. Selain itu alokasi anggaran dari DAK tematik pengentasan pemukiman kumuh tahun 2021 sebesar 8.210.868.300 ditembah biaya mengatasi warga terdampak program sebesar 5 miliar. “Secara keseluruhan untuk penataan Makasar Timur sebesar 85.972.193.400, untuk hasil penataan pemukiman Makasar Timur mulai dari 2019 sampai 2023 capain pengurangan kumuh dengan skoring menjadi 22 dengan tingkat kekumuhan ringan,” jelasnya.
Sementara Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Malut Firman Aksara menyebut, penataan kawasan kumuh di perkotaan melalui program Kotaku yang bertujuan untuk menurunkan luasan pemukiman kumuh, melalui kolaborasi dan penanganan kumuh dengan berbagai stakeholder. “Program kota melalui peningkatan skala kawasan dan lingkungan untuk mendukung penanganan kumuh yang jadi target RPJMN 2015-2019 serta RPJMN 2020-2024, dengan dukungan infrastruktur yang mencakup 71 indikator kekumuhan sesuai PermenPU nomor 17 tahun 2018,” katanya.
Capaian pengurangan kumuh target RPJMN 2020 sampai 2024, hingga akhir tahun 2022 seluas 7300,6 hektar atau dari target 73 persen. Untuk Provinsi Malut khususnya Kota Ternate pengurangan kumuh melalui Kotaku selama 2017 sampai 2023 seluas 31,63 hektar yang meliputi 4 kecamatan dan 19 kelurahan. “Jadi total investasi yang dikeluarkan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah kurang lebih 52 miliar untuk di Makasar Timur sendiri, dan pada tahun 2023 penangana kawasan kumuh salah satunya dilakukan dengan skema skala kawasan sebagai optimalisasi pekerjaan sebelumnya tahun 2021 berupa pekerjaan anjungan, titik kumpul, jaringan jalan, drainase, pedestrian, titik parkir, talud dan utilitas pendukung,’ tandasnya.
Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman mengatakan, anjungan pandara kanangan di Makasar Timur sebelum diresmikan sudah jadi salah satu tempat swafoto di Kota Ternate, bahkan Wali Kota menyebut untuk menjadi seperti saat ini tidak mudah karena ketika membangun anjungan tersebut sebagai upaya Pemkot Ternate untuk mengurangi titik kumuh yang ada di pusat kota. “Pembangunan anjungan ini sebagai upaya mengurangi kumuh di Makasar Timur, karena di lokasi ini pada tahun 2000 kurang lebih terjadii kebakaran 3 sampai 4 kali, sehingga ada upaya kita melakukan penataan di Maksar Timur,” ungkap Wali Kota.
Dikatakan Wali Kota, penataan kawasan Makasar Timur itu butuh waktu lama sampai 8 tahun, nanti saat ini masih kurang lebih 7 hektar lagi yang harus diselesaikan Pemkot Ternate, dan pembanguan anjungan ini berkat hasil kolaborasi antara Pemkot Ternate dengan Kementrian PUPera.
“Kami atas nama Pemerintah Kota Ternate menyampaikan terima kasih kepada pak Menteri PU yang diwakili Kepala BPPW,” katanya.
Menurut Tauhid, Kota Ternate identic dengan water front city yang digauncang pada jaman mantan Wali Kota alm. Samsir Andili ketika dilakukan proyek reklamasi mulai dari tapak satu sampai tapak satu plus, namun rencana proklamasi ini dilakukan sejak Kabupaten Maluku Utara dimasa kepemimpinan Abdullah Assagaf sebagai Bupati Malut saat itu. “Olehnya itu saya berkeinginan kita melakukan penataan mulai dari Bastiong, Mangga Dua kemudian Falajawa, Makasar Timur, Salero dan Sangaji Dufa-dufa. Jadi konsep water front city harus dimaknai Ternate secara keseluruhan, sehingga penataan ini dilakukan agar Kota ini cantik,” ucapnya.
Lanjut Wali Kota, setelah anjungan pandara Kananga ini terbangun nantinya Pemkot Ternate akan melakukan revitalisasi kanal didepan anjungan untuk dijadikan pusat permainan anak sebagai dukungan Kota Ternate sebagai Kota Layak Anak.
”Ini dengan maksud ketika dilakukan penataan suatu kawasan maka kepentingan anak pun tidak diabaikan,” tandasnya.*
Editor : Hasim Ilyas

