Warga Diminta Terus Waspada Sisa Material Banjir Bandang

TERNATE – Dengan kejadian di Kelurahan Rua yang menewaskan 19 orang harus diwaspadai, karena banjir bandang di Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate disebut masih menyisakan endapan sisa material di hulu sungai yang berada di lereng gunung.

“Hasil rombakan (material; bebatuan) akibat banjir bandang Minggu pagi itu masih tersisa di atas (hulu banjir). Dengan kubikasi yang masih dihitung oleh tim yang tergabung termasuk Balai Wilayah Sungai juga,” kata, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara Dedi Arief, pada Minggu (1/9/2024).

Menurut Dedi, jika terjadi banjir susulan dari hulu, maka endapan ini berpotensi terbawa hingga ke hilir di pesisir pantai Rua, yang itu harus diikhtiarkan warga.

“Artinya apa?, masih ada kemungkinan endapan hasil rombakan material saat terjadi banjir, akan tergelincir turun di jalur yang sama,” ungkapnya.

Sehingga, sebagai upaya mitigasi, para tim yang sedang melakukan evakuasi mesti memperhatikan peringatan dini atau cuaca resmi BMKG. Khususnya, perkembangan cuaca lokal di Kelurahan Rua dan sekitarnya. 

IAGI kata dia,  bersama tim Dinas Kominfo akan memantau melalui drone dan menganalisa pergerakan material setiap hari, saat proses evakuasi berlangsung.

“Begitu pun, harus saling mengingatkan satu sama lain, ketika ada tanda-tanda yang akan mengakibatkan banjir. Misalnya, tiba-tiba ada aliran air, meskipun debitnya tidak besar tetapi wajib diwaspadai”, kata Dedi.

Dikatakannya, ancaman banjir juga bisa saja terjadi di kawasan lainnya di Ternate. Ini mengingat, setiap daerah di kaki Gunung Gamalama terkoneksi dengan gawir (lereng terjal) yang ada di puncak.

Sehingga sewaktu-waktu, gawir tersebut dapat saja mengalami erositas , tergeser menjadi material rombakan dan menjadi material  banjir layaknya di Rua.

Lanjutnya, di saat membangun hunian atau bangunan lainnya, masyarakat harus memperhatikan polanya. Dan mestinya dalam pembangunan sudah melalui kajian risiko bencana.

“Jangan sampai masyarakat  membangun di ruang yang punya risiko bencana yang tinggi. Semuanya bisa membangun, hanya saja harus menggunakan kajian risiko bencana yang matang,” tandasnya.*
Editor : Hasim Ilyas