Pangkalan Mita Subsidi Diduga Milik Oknum Polisi Dijual tidak Sesuai Aturan

TERNATE – Salah satu pangkalan minyak tanah (Mita) subsidi bernama Winneke L.R di Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara diduga menjual Mita ke masyarakat tidak sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Padahal, harga Mita subsidi yang telah ditetapkan sesuai SK Wali Kota Ternate dengan nomor 83/I.4/KT/2023 itu senilai Rp4000. Tetapi pangkalan Winneke L.R, justru menjual diatas harga HET senilai Rp5000 dengan alasan minyak sisa.

Pangkalan yang diduga milik oknum polisi berpangkat Perwira itu dikelola oleh Oji, salah satu warga di Kelurahan Gambesi. Hal itu diketahui setelah anggota DPRD Kota Ternate dari Fraksi Partai Gerindra, Hj. Nurjaya Hi. Ibrahim melakukan inspeksi mendadak (Sidak), Rabu (7/05/2025).

Kata dia, Mita subsidi yang didistribusikan oleh PT. Mitamal Utara ke pangkalan Winneke L.R sebanyak 8 ton sekali masuk pada bulan April 2025. Sedangkan data pengguna dari Pemerintah Kelurahan Gambesi sebanyak 579 jiwa. Per jiwa akan mendapatkan Mita sebanyak 5 liter.

“Jadi total Mita yang disalurkan kepada masyarakat sebanyak 2.895 liter dari total 8000 liter, sehingga masih terdapat selisih atau kelebihan sebanyak 5.105 ribu liter. Ternyata, sisa minyak tersebut dijual lagi kepada warga dengan harga Rp 5000,” katanya, Kamis (8/05/2025).

Nurjaya mengaku, pangkalan Mita tersebut beroperasi sudah sejak tahun 2019. Di mana berdasarkan keluhan masyarakat, praktik jual Mita di atas harga tersebut sudah mulai dilakukan. “Harga sesuai HET itu Rp4000, tetapi kalau warga mau membeli kembali lagi maka sudah ada kenaikan harga menjadi Rp5000,” ucapnya.

Nurjaya menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate diharapkan dapat mengupdate data serta perketat pengawasan agar setiap minyak yang masuk ke pangkalan pihak kelurahan harus hadir, sehingga pembagiannya sesuai dengan aturan.

“Mestinya data kelurahan itu tiap tahun harus diupdate, sehingga ada penambahan atau kekurangan penduduk bisa diketahui, sehingga minyak yang didistribusikan kepada masyarakat bisa tepat sasaran. Tetapi sebaliknya data itu sudah beberapa tahun belakangan belum juga diupdate,” tandasnya.(cr-02)