Niat Miliki Alat PCR Tertunda

Jubir dr. Alwia Assagaf

TERNATE – Bantuan satu mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) Sars-Cov-2 yang dikirim dari Jakarta, ternyata tertukar dengan Alat Pelindung Diri (APD) dari Pusat untuk Malut.

Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Maluku Utara (Malut), dr. Alwia Assagaf mengatakan, awalnya mereka mengira alat sudah tiba di kantor BPBD Provinsi Malut di Sofifi. Tetapi setelah dibuka isinya bukan PCR melainkan APD. “Kemarin informasinya alat PCR sudah ada, tapi ternyata setelah dibuka isinya bukan PCR, tapi APD,” aku dr. Alwia saat Konfrensi Pers, Kamis (18/6).

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang mengkomunikasikan ke Pusat mengenai penyebab kesalahan pengiriman tersebut, namun hasilnya belum diketahui. Meski demikian, sudah ada konfirmasi dari Pusat bahwa alat yang dijanjikan itu sudah akan dikirim ke Malut. “Informasinya memang sudah akan dikirim PCR, dan jika itu sudah ada mungkin prepare ruangan dan sebagainya itu diupayakan satu minggu. Karena kalau untuk melatih penyegaran SDM itu tidak butuh waktu lama. Kita berharap semoga saja alat PCR dan alat pendukung secepatnya bisa tiba di Ternate,” ucapnya.

Kepala Biro Protokol Kerjasama dan Komunikasi Publik (PKKP) Setda Malut Mulyadi Tutupoho menjelaskan, alat yang disangka PCR itu tiba di Malut langsung ditampung di Kantor BPBD Malut di Sofifi, belum diterima oleh Posko Gugus Tugas di Sahid Bela Hotel-Ternate. “Jadi otomatis kita tidak tahu, nanti setelah dikroscek, ternyata yang ada adalah APD dan beberapa alat kesehatan yang lain, dan itu sementara yang ada di Posko,” jelasnya.

Terpisah, Direktur LSM Rorano Mohammad Asghar Saleh saat dihubungi meminta Pemerintah Provinsi Malut agar focus mendatangkan alat PCR. Kata dia, yang berbahaya dari Covid-19 adalah kecepatan penyebaranya, maka yang dibutuhkan sekarang adalah kecepatan mendiagnosis. “Maksudnya memastikan apakah seseorang terinveksi atau tidak. Kalau pakai rapid test itu buang-buang waktu menurut saya,” katanya.

Apalagi sekarang transmisi local di Ternate ada di mana-mana, sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah swab test, tidak perlu lagi rapid test.” Sehingga begitu dapat orang positif, langsung dicari orang yang kontak erat dengan pasien positif, supaya diketahui statusnya agar bisa diputuskan di orang-orang terdekat, virus tidak menyebar kemana-mana lagi,” jelasnya.

Ia mengumpakan, jika dalam sehari ranning dengan Tes Cepat Molekuler PCM sebanyak 10 spesimen, maka 2 PCM dalam sudah bisa ranning 40 spesimen. Jika itu ditambah dengan PCR yang kekuatan ranning dalam sehari mencapai 100, maka sudah banyak warga yang sudah bisa didiagnosis dengan cepat.” Kalau situasinya begini kan penanganannya jadi makin panjang. Karena torang dalam posisi menunggu, torang tidak ada waktu untuk mengikuti penyebaran virus yang cepat, jadi torang menunggu. Jadi ketika dia berlari misalnya 1 jam berapa ratus kilo meter, torang baru berapa meter. Dia sudah di depan baru kita di sini masih mulai berhitung, artinya upaya untuk bikin kurva turun dia jadi panjang,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap Pemerintah dapat menyegerakan pengiriman alat PCR. “Saya minta semua pihak serius, tidak ada waktunya lagi untuk saling kita menyalahkan, sudah tidak ada waktu, virus itu sudah ada di rumah besar, kalau tidak bersama-sama, terus mau gimana, kita harus bersama menangani kasus ini,” pinta Asghar. (nas)