SANANA – Penjual ikan di pasar Basanohi, Desa Fogi, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), merasa dipermainkan oleh pemerintah terkait dengan tempat jualan. Karena menimbulkan kecemburuan sesama penjual. Sebab, penjual di pasar tersebut, ada yang dikenal dengan dibo-dibo atau penjual tetap dan ada penjual musiman.
Hal ini bukan baru terjadi satu kali, tetapi pertengakaran antara penjual ikan ini sudah terjadi berulang kali. Sebab, tempat yang disediakan oleh pemerintah melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kepsul sampai saat ini belum jelas. Makanya sering terjadi kekacauan antar penjual.
Akibat sering terjadi kekacauan, penjual musiman itu sering berpindah tempat. Tetapi masih saja terjadi masalah antar mereka. Bukan saja itu, penjual tetap ini juga sudah beberapa kali dipindahkan oleh pengelola pasar, alasannya untuk melakukan pembangunan.
Ditempat sebelumnya mereka berjualan ikan, pemerintah janji tidak lagi membangun pasar ikan. Kemudian penjual ikan tetap pindah ke tempat yang sekarang, tiba-tiba pemerintah malah membangun pasar ikan di lokasi yang sebelumnya dan menyuruh penjual ikan musiman untuk menempatinya. Dari situ timbul ketersinggungan.
Pada Senin (22/6), sesama penjual kembali terjadi adu mulut, sehingga mereka semua dibawa ke Polres Kepsul untuk dilakukan mediasi. Mereke inginkan agar pemerintah mencari solusi yang tidak merugikan dua pihak.” Kalau ada satu tempat yang layak agar bisa menampung semua penjual yang ada, maka sudah tidak terjadi lagi kekacauan. Tapi yang ada ini, sebagian jual di pasar ikan yang disediakan, sebagian jual di emperan yang paling depan pasar Basanohi. Yang jelas, kalau orang sudah beli yang di depan, kita yang ada di pasar ikan ini sudah tidak ada orang yang datang beli,” kata Rohani Umasugi, salah satu dibo-dibo atau penjual ikan tetap saat ditanya awak media.
Sebelumnya, Rohani mengatakan, pemerintah meminta waktu satu bulan untuk menyelesaikan persoalan ini. Tetapi memasuki bulan kedua ini, belum ada solusi yang diambil oleh pemerintah. “Yang kami tidak puas itu pemerintah janji tidak bangun pasar ikan, tapi masih bangun pasar. Padahal sebelumnya kami sudah jual di situ, mereka suruh kami pindah, sekarang malah bangun lagi,” ujarnya.
Kepala Diskoperindag Kepsul, Sofia Sjamlan mengatakan, dalam masalah ini pemerintah tetap berdiri di tengah. Tentu tidak berpihak ke siapa-siapa, dan akan mencari solusi yang terbaik. Karena, penjual tetap atau dibo-dibo dan penjual musiman ini sama-sama warga Kepsul. “Kami tidak mungkin melarang orang untuk tidak berjualan. Sementara mereka sama-sama mencari nafkah. Kami akan mencari jalan keluarnya,” katanya.
Mereka tetap akomodir sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi, mereka akan melakukan tempat pelelangan ikan (TPI). Fungsi dari TPI ini akan mengatur terkait dengan distribusi dan harga. “Supaya tidak konflik yang berkepajangan seperti ini. Semua punya hak yang sama untuk berjualan,” pungkasnya.(nai)

