Asprov PSSI Malut Sesalkan Tindakan Kekerasan ke Thoriq Alkatiri

Aldhy Ali
Aldhy Ali

TERNATE – Aksi tidak menyenangkan dari salah satu oknum penonton dan manajemen Malut United, kepada Thoriq Alkatiri wasit yang memimpin laga lanjutan BRI Super League antara Malut United vs PSM Makasar, pada Sabtu (7/3/2026) disesalkan Asprov PSSI Malut.

Aksi ini terjadi saat perangkat pertandingan menuju ke ruang ganti usai memimpin pertandingan yang berakhir 3-3 tersebut, bahkan tindakan keduanya viral di media sosial dan mendapat kecamatan publik.

Sekjend Asprov PSSI Malut Aldhy Ali mengatakan, sesuai dengan Laws of the Game keputusan wasit adalah mutlak, final, dan tidak dapat diganggu gugat selama pertandingan. Dan wasit punya kewenangan penuh.

“Wasit memiliki wewenang dan otoritas penuh menegakkan aturan, dan keputusan tidak bisa diubahapalagi saat ini keputusan wasit juga di bantu dengan sudut pandang VAR yang tentunya bisa mengurangi potensi human error dari wasit,” katanya, pada Minggu (28/3/2026).

Menurut Aldhy, protes hanya bisa diajukan secara resmi oleh manajemen/tim setelah laga kepada otoritas liga. Untuk itu kata Aldhy, perlindungan kepada perangkat perangkat jadi prioritas utama dalam kompetisi.

“Perlindungan kepada perangkat pertandingan sepak bola (wasit, asisten wasit, pengawas pertandingan) merupakan prioritas utama dalam penyelenggaraan kompetisi atau suatu pertandingan di Indonesia,” ungkapnya.

Dikatakannya, perlindungan perangkat pertandingan prioritas, terutama setelah adanya peningkatan standar keamanan pasca-tragedi Kanjuruhan. Dimana, perlindungan ini diatur melalui kombinasi regulasi PSSI dan Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Bahkan pengamanan ini juga diatur dengan diterbitkannya peraturan khusus (Perpol 10/2022) tentang Pengamanan Penyelenggaraan Kompetisi Olahraga, yang mencakup perlindungan fisik bagi perangkat pertandingan, pemain, dan ofisial.

“Perihal kejadian kemaren penonton harus lebih sadar dan dewasa dalam menyikapi dinamika suatu pertandingan, dan tentunya dari manajemn tim kedepan harus lebih intens melakukan sosialasi dampak yang akan diberikan kepada klub bila mana perangkat pertandingan diintervensi sampai pada upaya menjurus ke tindakan kekerasan,” ungkap Aldhy.

Dia mengingatkan, dengan mencermati beberapa keputusan Komisi Disiplin (komdis) perihal sanksi kepada pelaku kekerasan dan intimidasi di dalam stadion sangat berat, yang di awali dengan insvestigasi dan dukungan bukti.

“Komdis tentunya menindaklanjuti insiden yang melibatkan kelalaian petugas keamanan/Security Officer yang gagal melindungi perangkat pertandingan di dalam stadion. Dan sanksi, mulai dari larangan menggelar pertandingan tanpa penonton, kemudian beraktivitas seumur hidup hingga denda, diberikan kepada petugas dan panpel yang melalaikan tugas, hal ini mestinya harus jadi perhatian,” terangnya.

Dari kejadian pasca pertandingan melawan PSM Makasar tersebut, Aldhy dapat jadi bahan evaluasi manajemen dan seluruh pecinta sepak bola kedepan, agar kejadian itu tidak terulang.

“Semoga kejadian kemaren bisa menjadi ikhtiar dan pembelajaran bagi kita semua, apalagi Malut United sudah hadir dan menghilangkan dahaga sepak bola Maluku Utara,” tandasnya.*
Editor : Hasim Ilyas