FISIP UMMU Gelar Diskusi Politik Digital, Hadirkan Akademisi hingga Pejabat Daerah

TERNATE — Percakapan di media sosial dan derasnya arus informasi digital kini tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami politik. Fenomena itu akan dibahas dalam diskusi panel yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).

Diskusi panel bertajuk “Politik Digital: Kuasa, Perilaku Sosial, dan Ekosistem Komunikasi Kontemporer”, dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) di Rotasi Cafe, Kelurahan Kayumerah, Kota Ternate.

Koordinator kolaborasi kegiatan, Samsir Hamajen, mengatakan, perkembangan ruang digital telah menghadirkan perubahan dalam dinamika politik dan kehidupan sosial masyarakat. 

Menurut dia, politik saat ini tidak lagi hanya berlangsung melalui ruang-ruang formal kekuasaan, tetapi juga tumbuh dan bergerak di ruang digital yang begitu cepat serta dinamis.

“Karena itu, pembacaan terhadap politik digital tidak bisa dilakukan hanya dari satu sudut pandang. Perlu ada pendekatan lintas disiplin agar relasi antara kuasa, perilaku sosial, dan komunikasi dapat dipahami secara lebih utuh,” kata Samsir Hamajen, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut digagas melalui kolaborasi sejumlah akademisi FISIP UMMU, yakni Yahya Alhadad, M. Nofrizal Amir, Syaiful Bahri, dan Zulkifli Hi. Saleh. 

Diskusi panel tersebut dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik dengan praktik pemerintahan.

“Forum tersebut akan menghadirkan narasumber dari unsur akademisi UMMU, anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Sekretaris Kota Ternate, serta Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian,” sebut Apil begitu disapa.

Sementara itu, Dekan FISIP UMMU Aji Deni menilai kegiatan tersebut penting dalam memperkuat tradisi akademik yang terbuka dan kontekstual di tengah perkembangan teknologi digital.

“Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi digital, kampus harus hadir sebagai ruang penjernihan yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga mampu memberi arah dalam membaca realitas sosial,” ujar Aji Deni.

Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk tetap berada di garis depan dalam merespons perkembangan sosial yang terus berubah, termasuk perubahan yang muncul akibat perkembangan ruang digital. 

“Diskusi panel ini menjadi bagian dari upaya merawat nalar publik agar tetap sehat di tengah arus informasi digital yang semakin cepat dan tidak selalu jernih,” tandasnya. (red)