JAILOLO – Manajemen RSUD Jailolo kembali menjadi sorotan publik. Di tengah keluhan warga terkait pelayanan rumah sakit dan sering kosongnya obat-obatan di apotek, pihak rumah sakit justru mengalokasikan anggaran pengadaan meubel dan fasilitas penunjang pada tahun anggaran 2026.
Kebijakan tersebut menuai kritik warga karena dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan utama pasien, terutama terkait ketersediaan obat-obatan.

Berdasarkan data pada laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Halmahera Barat 2026, RSUD Jailolo mengalokasikan anggaran sebesar Rp99.949.000 atau dibulatkan menjadi Rp100 juta untuk pengadaan alat penunjang fasilitas pelayanan.
Pengadaan itu bahkan telah selesai tender dengan pelaksana kegiatan tercatat atas nama CV Siti Humairah. Hasil penelusuran menunjukkan anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan enam item fasilitas, yakni 10 kursi tunggu pasien, tujuh kursi operator laboratorium, enam kursi kerja putar, 10 kursi kerja biasa, satu meja kerja laboratorium serta empat meja setengah biro.
Kondisi itu memicu reaksi warga karena selama ini pasien lebih banyak mengeluhkan stok obat yang kerap kosong di apotek rumah sakit. “Kalau berobat sering obat tidak tersedia, akhirnya pasien harus beli di luar dengan harga mahal. Padahal, banyak warga menggunakan BPJS,” ungkap salah seorang warga yang enggan sebut namanya.

