TERNATE — Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman secara resmi membuka acara opening ceremony pasar malam Indonesia, Pentas Budaya, dan Festival Gastronomi dalam rangka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-XII pada Rabu (27/8/2026) sore di Benteng Oranje, Ternate.
Wali Kota Ternate menyampaikan, rasa bahagia atas terselenggaranya pembukaan Pasar Malam Indonesia, Pentas Budaya, dan Festival Gastronomi yang menjadi salah satu daya tarik utama Rakernas XII tahun 2026.
Dikatakan Wali Kota, di tengah suasana kebahagiaan dan semangat kebersamaan masyarakat kota ternate bersama para tamu delegasi, Wali Kota Ternate menyampaikan rasa empati dan keprihatinan yang mendalam atas musibah bencana alam yang sedang menimpa saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah Kalimantan.
Wali Kota mengungkapkan, banyak delegasi dari berbagai daerah yang sebenarnya sangat berkeinginan untuk hadir di Ternate. Namun, demi mendampingi serta membantu masyarakatnya yang sedang terdampak musibah, mereka harus mengurungkan niat hadir secara langsung.
“Bagi kita dalam keluarga besar JKPI, kondisi ini menjadi keprihatinan bersama. JKPI bukan hanya tentang Kota Pusaka, Sejarah, dan Kebudayaan, tetapi juga tentang persaudaraan, kepedulian, dan solidaritas antar daerah,” ungkapnya.
Wali Kota menyebut, seluruh elemen masyarakat dan pengurus JKPI menyampaikan doa serta dukungan agar masyarakat yang terdampak musibah diberikan kekuatan, ketabahan, serta proses penanganan dan pemulihan dapat berjalan dengan lancar.
Wali Kota menegaskan kembali sejarah besar Ternate. Sebagai bagian dari Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo), Ternate merupakan kepulauan penghasil pala dan cengkih dari negeri jajiratul mulkiyah (negeri para raja).
“Secara historis, Ternate adalah titik nol geopolitik dunia. Nilai ekonomi cengkih dan pala di masa lalu pernah melampaui emas, menjadikannya komoditas sekaligus senjata politik yang memikat bangsa Romawi, Tiongkok, Arab, Persia, Portugis, Spanyol, Inggris, hingga VOC Belanda,” katanya.
Dia mengatakan, melalui gelaran Festival Gastronomi dan Pameran Kebudayaan, Ternate ingin mengukuhkan bahwa city branding “Ternate Kota Rempah” bukan sekadar slogan, melainkan aksi kolektif untuk merawat kedaulatan budaya serta mendorong tata kelola pemerintahan yang ekstraktif positif dan responsif.
Wali Kota juga menekankan, pentingnya program strategis seperti lawatan nusantaria melalui program arsipelagos (kolaborasi JKPI dan PT. Pelni) untuk menghidupkan kembali tradisi maritim serta memperkuat posisi geopolitik kawasan kepulauan Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh Sultan Ternate, Presidium JKPI, Duta Besar Kerajaan Belanda, serta para Kepala Daerah Kota Pusaka se-Indonesia, Wakil Wali Kota, Forkopimda Kota Ternate dan Sekda Kota Ternate serta Ketua TP PKK Kota Ternate.*
Editor : Hasim Ilyas
