Alfajri A. Rahman
Jurnalis
Dari Kota Ternate, kita memulai gerakan 1000 rupiah, dengan di padukan dalam Rakernas JKPI di Ternate dengan sejumlah para peserta dari Kota dan Kabupaten tergabung dalam JKPI melaksanakan Rakernas tidak terlepas dari kepentingan sosial keterpangilan moril saudara-saudara ada di NTT musiba gempah bumi. Tentunya, mengajak seluruh warga dan peserta memberikan perhatian penuh di NTT.
Di balik megahnya gunung api dan garis pantai yang mempesona, di Kepulauan Nusantara sering kali menyimpan kepedihan yang sama, kerentanan geografis dan luka penataan ruang. Bahkan “Duka NTT” yang kerap bergema akibat hempasan bencana alam kita tidak inginkan bersama, isolasi wilayah terdepan, serta minimnya akses keadilan pembangunan, sesungguhnya bukanlah kepedihan milik masyarakat Nusa Tenggara Timur semata. Ketika kita melayangkan empati dan doa “Pray for NTT” gema duka itu merambat sampai ke Utara, ke Kota Pusaka yakni Ternate.
Ternate dan wilayah-wilayah di NTT berdiri di atas takdir geografis yang serupa. Keduanya adalah beranda kepulauan yang kaya akan warisan tradisi dan sejarah panjang, namun sekaligus menanggung beban berat sebagai daerah terluar dan rentan bencana. Duka NTT yang lahir dari ancaman cuaca ekstrem, kerusakan lingkungan, hingga terabaikannya hak-hak masyarakat pulau-pulau kecil adalah cermin bening bagi Ternate.
Bagi Ternate, persaudaraan duka sangat terasa erat. Di saat pusat kota berbenah dan mengadopsi wajah modernisasi, warga di pulau-pulau penyangga seperti Batang Dua, Hiri, dan Moti (BAHIM) masih harus berjuang keras demi konektivitas dasar, keselamatan transportasi laut, hingga fasilitas akomodasi yang layak saat mencari keadilan layanan publik di pusat kota.
Keadaan ini lebih mempertegas bahwa duka wilayah kepulauan baik di NTT maupun di Ternate, berakar pada hal yang sama yakni ketimpangan perhatian dan pengabaian atas hak-hak mendasar masyarakat bahari.
Ungkapan Pray for Ternate dan Pray for NTT tidak boleh berhenti menjadi tagar belaka atau seruan simpati yang menguap seiring berlalunya berita. Doa untuk Ternate dan NTT harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebuah reorientasi pembangunan yang menempatkan keselamatan warga, kelestarian lingkungan, dan kesetaraan akses sebagai prioritas tertinggi.
Kota pusaka serta pulau-pulau di Nusantara tidak boleh dibiarkan bertarung sendirian melawan ancaman alam dan keterisolasian. Maka, dengan mengabungkan doa untuk Ternate dan NTT berarti menagih komitmen negara untuk menghadirkan keadilan sosial yang merata dari Flores hingga Hiri, dari Sumba hingga Batang Dua. Sebab, pada akhirnya, ketahanan dan kepedulian di satu pulau adalah ketahanan seluruh kepulauan yang Indonesia.*
