SANANA – Penyampaian orasi politik oleh juru kampanye (Jurkam) pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Sula (Kepsul), Fifian Adeningsih Mus-M. Saleh Marasabessy (FAM-SAH), Ridwan Soamole diduga menyerang ke paslon lain.
Akibatnya, kampanye yang berlangsung di Desa Wainib, Kecamatan Sulabesi Selatan, pada Minggu (04/10/2020) menjadi tegang lantaran Panwascam mencoba untuk mencegat Ridwan saat menyampaikan orasi politik.
Langkah Panwascam untuk mencegat anggota DPRD Kabupaten Pulau Taliabu itu, karena bukan baru kali Panwascam menegur dan mengingatkan kepada politisi PDI-Perjuangan itu. Tetapi dari kampanye di desa sebelumnya Panwascam sudah mengingatkan, tetapi masih saja melakukan hal yang sama di desa lain .
“Sebenarnya kampanye berlangsung aman. Hanya saja, ada salah satu jurkam FAM-SAH yang sudah diingatkan berulang kali oleh Panwascam tapi tetap masih mau mengeluarkan bahasa yang menyerang ke Paslon lain. Makanya Panwascam mengambil langkah dengan mencegat anggota DPRD Pulau Taliabu itu,” kata Ketua Bawaslu Kepsul, Iwan Duwila, Senin (05/10/2020).
Iwan mengatakan, kampanye di Wainib yang membuat ketegangan antara tim kampanye dan Panwascam itu, karena dicurigai ada bahasa jurkam yang mengarah ke serang pribadi paslon lain dan isu SARA.
“Makanya Panwascam menghentikan Ridwan yang saat itu sedang berkampanye supaya tidak lanjut. Sebab dikhawatirkan dengan isi materi kampanye yang menyerang ke paslon lain,” ujarnya.
Dia menambahkan, langkah yang diambil oleh Panwascam ini karena memang bukan saja di Wainib. Tetapi dari desa Sekom. Di Sekom itu Panwascam sudah melakukan pencegahan. “Tetapi di Wainib itu masih tetap mengeluarkan bahasa yang sama, yang saya dengar dari Panwas itu bahasa yang dikeluarkan terkait dengan kematian ayah dari Hendrata Thes yang dilakukan upacara di istana daerah beberapa waktu lalu,” ungkap Iwan.
Iwan menambahkan, kepada semua paslon maupun tim pendukung agar dalam kampanye jangan membawa materi yang saling menyerang antara paslon.
Di momentum ini, paling tidak bisa memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. “Selain itu, menyampaikan saja terkait visi dan misi kepada masyarakat agar menjadi pengetahuan bagi masyarakat. Jangan saling menyerang,” pintanya.
Sementara Kabag Ops Polres Kepsul, AKP Mirsan Yasin saat ditemui wartawan di ruang kerjanya mengatakan, kejadian di Wainib itu adalah salah paham antara Panwascam dan jurkam. “Itu kalau lebih awal Panwascam koordinasi lebih dulu dengan pihak keamanan, maka tidak akan terjadi seperti kemarin. Panwas langsung rampas mic dari jurkam,” katanya. (nai)

