Untuk membantu meredam energi gelombang yang mencapai pantai, pembangunan awal breakwater atau pemecah gelombang dilakukan pada 2022–2023. Penyempurnaan infrastruktur tersebut dilanjutkan pada 2026. Pemantauan kondisi pesisir dan pemeliharaan berkala tetap diperlukan untuk mengevaluasi kinerja infrastruktur serta menyesuaikan penanganan dengan perubahan gelombang dan pergerakan sedimen.
Bagi nelayan, perubahan kondisi perairan berkaitan langsung dengan aktivitas melaut. Ibrahim, Ketua Kelompok Nelayan Soligi Bersatu, mengatakan ikan masih banyak ditemukan di perairan Obi. Namun, nelayan setempat juga menghadapi persaingan dengan kapal besar dan tingginya biaya operasional.
Untuk mendukung kegiatan nelayan, Harita Nickel memfasilitasi penyediaan perlengkapan melaut, pembangunan sekretariat kelompok, pembuatan kapal penampung ikan berbahan fiber, serta pendampingan pengurusan legalitas rumpon.
“Harapan kami, ke depan Kelompok Nelayan Soligi Bersatu bisa semakin maju dan menjawab semua kekurangan kami di masa lalu,” ujar Ibrahim.

Pengalaman nelayan menunjukkan bahwa keberlanjutan penghidupan di pesisir tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga dengan akses terhadap wilayah tangkap, biaya operasional, dan kapasitas kelompok untuk menjalankan kegiatan perikanan.
Laut sebagai Ruang Ekonomi dan Budaya
Keterikatan masyarakat Obi dengan laut juga tercermin dalam Obi Fishing Tournament, yang memasuki penyelenggaraan kelima pada Oktober 2026. Tahun ini, kompetisi memancing tersebut menjadi bagian dari Festival Harmoni Obi pada 24–25 Oktober, bersama pertunjukan seni dan budaya serta bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi perikanan, budaya lokal, dan produk usaha setempat. Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan masyarakat dan karyawan dalam perayaan yang berkaitan dengan kehidupan pesisir Obi.
“Kemajuan industri perlu berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap kearifan lokal. Melalui Festival Harmoni Obi ini, kami ingin mempertemukan masyarakat dan karyawan untuk merayakan potensi laut sekaligus melestarikan budaya,” ujar Irwan Sutrisno, Ketua Panitia Festival Harmoni Obi.
Pengendalian air limpasan, pemantauan kondisi pesisir, dan dukungan terhadap kegiatan nelayan merupakan aspek yang saling berkaitan, tetapi membutuhkan evaluasi sesuai persoalan masing-masing. Pemantauan memberikan informasi tentang kondisi lapangan, sedangkan evaluasi menjadi dasar untuk menentukan apakah langkah pengelolaan perlu dipertahankan, diperbaiki, atau disesuaikan.
Pendekatan tersebut penting agar pengelolaan lingkungan di Pulau Obi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi terus mengikuti perubahan kondisi alam dan memperhatikan keberlangsungan penghidupan masyarakat.(**)