Oleh MULIADI TUTUPOHO
Kepala Dinas Kearsipan & Perpustakaan (Disarpus) Malut
Pada akhir bulan Januari 2022 lalu, Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Alkhairaat di Kelurahan Sasa, Kota Ternate Selatan, diresmikan. Peresmian ini dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Salafiyah Alkhairaat di lokasi Ponpes itu sendiri. Ponpes ini merupakan yang terbesar di Maluku Utara.
Dalam hajatan yang dihadiri juga Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat Palu, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Jufri, Gubernur Maluku Utara KH. Abdul Gani Kasuba (AGK), Wali Kota Ternate, Muhammad Tauhid Soleman, dan Danrem/152 Baabullah Ternate tersebut, Gubernur AGK dengan penuh semangat mengatakan, kalau tidak ada tantangan berarti itu bukan Alkhairaat.
Tentu banyak hal yang disampaikan oleh Gubernur AGK yang merasa sangat bersyukur dapat belajar langsung dengan pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, di Pusat Pendidikan Alkhairaat, Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Tetapi tulisan ini hanya melihat tantangan yang dihadapi Alkhairaat ke depan.
Pernyataan Gubernur mengenai tantangan itu bermakna luas, dan dapat dipahami bahwa Alkhairaat akan selalu menghadapi tantangan pada setiap perkembangan zaman dengan segala problematika dan konsekuensinya. Saat ini, peradaban dunia sangat maju, dimana revolusi industri yang dikenal dengan Revolusi 4.0 atau era digital menjadi cirinya.
Di era revolusi 4.0 atau digital ini, persaingan di bidang pendidikan dan bidang lainnya sangat ketat, sehingga harus mampu menghadapinya, jika tidak ingin tersingkir atau menjadi penonton di negeri sendiri. Sementara dalam bidang pendidikan, Alkhairaat yang dulu sebelum era reformasi sangat terkenal dan mampu bersaing dengan sekolah negeri dan swasta yang top di Maluku Utara, kemudian seiring waktu berjalan, popularitas Alkhairaat mulai mendapat teman saingan yang cukup berat khususnya dibidang pendidikan sampai saat ini. Dalam pengamatan penulis, ada beberapa hal yang perlumenjadi perhatian kita bersama, yakni guru, fasilitas, organisasi otonom, dan peran abnaulkhairaat.
SDM dan Fasilitas
Alkhairaat adalah Lembaga Pendidikan Islam yang memiliki sumber manusia (SDM) yang secara kuantitas sangat banyak karena terbesar di wilayah Timur Indonesia. Agar terus berkembang dan bersaing dengan lembaga pendidikan lain, maka kualitas dan kesejahteraan guru-guru yayasan atau non-pegawai negeri sipil harus ditingkatkan. Sebab, sebagaimana diketahui, guru merupakan garda terdepan dalam peningkatan kualitas generasi muda di lembaga pendidikan.
Peran guru dalam peningkaan kualitas SDM tersebut akan semakin baik dan tinggi, jika ditunjang dengan fasilitas perpustakaan dan laboratorium. Gedung dan isi perpustakaan yang sangat memadai tentu akan memacu tingkat literasi di kalangan anak dididik/murid. Sedangkan laboratorium yang memadai akan membantu para murid untuk secara dini belajar melakukan riset/penelitian di bidang ilmu pengetahuan.
Oleh karena para murid juga ada yang memiliki minat di bidang seni, budaya, olahraga, dan bentuk kecerdasan lainnya, maka perlu diadakan fasilitas terkait sehingga para murid dapat mengembangkan potensinya di bidang masing-masing yang disukai (passion). Jika ini berjalan dengan baik, ke depan generasi muda Alkhairaat mampu bersaing di berbagai bidang masing-masing.
Bidang Usaha
Selain Pendidikan, Alkhairaat juga memiliki badan usaha (bisnis) seperti Toserba dan lain sebagainya. Untuk berkembang dan maju, maka pengelolaan bisnis tidak bisa dengan pola-pola manajemen yang lama. Pengelolaan bisnis harus dipercayakan kepada orang-orang (alumni) yang memiliki kompetensi di bidangnya. Apalagi saat ini di era revolusi digital yang ditandai dengan teknologi yang begitu maju, maka pengelolaan bisnis harus menyesuaikan diri atau mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, sulit untuk bersaing dengan bisnis-bisnis serupa yang dimiliki oleh pihak swasta. Salah satu modal terpenting Alkhairaat ialah alumninya yang memiliki ikatan yang kuat secara emosional, menjadi basis pasar yang jelas.
Ortom
Alkhairaat memiliki sejumlah organisasi yang otonom (Ortom) yang dijalankan oleh alumni berbagai angkatan yang bekerja di berbagai instansi dan bidang.Alkhairat sendiri memiliki jenjang dari pengurus tingkat pusat hingga ke tingkat Provinsi (Komwil) dan daerah kabupaten/kota (Komda). Selain itu, ada organisasi otonomnya seperti organisasi Wanita Islam Alkhairaat (WIA), Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA), dan Ikatan Alumin Alkhairaat (IKAAL).
Akan tetapi, organisasi-organisasi tersebut belum familiar di kalangan masyarakat. Seakan hanya sekedar nama, symbol, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena belum dijalankan secara optimal perannya, akibatnya organisasi-organissai otonom Alkhiaraat belum se populer dengan organisasi Islam lainnya, seperti Pemuda Anshar, Pemuda Muhammadiyah yang berada di bawah wadah NU dan Muhammadiyah serta organisasi kepemudaan Lainnya. Oleh karena itu, sudah saatnya pengurus Alkhairaat mengoptimalkan peran organisasi Otonomsehingga bisa membantu Alkhairaat secara keseluruhan terutama dunia Pendidikan Alkhairaat.
Peran Abnaulkhairaat
Untuk memajukan Alkhairaat, tentu tidak bisa menyerahkan semuanya kepada pengelola Alkhairaat saat ini, khususunya di Maluku Utara. Sebagai salah satu lembaga pendidikan terbesar di Indonesia, Alkhiaraat memiliki banyak alumni atau abnaulkhairaat, yang tersebar, berkarya di berbagai instansi pemerintah maupun swasta serta bidang lainnya.
Para alumni yang pernah menimba ilmu di Alkhairaat diharapkan kontribusinya dalam bidang ekonomi, dan juga pemikiran untuk mendukung pembangunan dan pengembangan Pendidikan Alkhairaat di Maluku Utara sehingga mampu bersaing pada era digital ini.
Gubernur AGK saat peresmian Ponpes Salafiyah Alkhairaat juga mengatakan, Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al-Jufri) sampai rela berjualan kain demi mendirikan Alkhairaat yang kemudian dapat dinikmati oleh generasi bangsa ini terus-menerus. Spirit ini yang mestinyadilanjutkan oleh alumni Alkhiaraat yang sukses di berbagai bidang dan profesi, sehingga Alkhairaat tidak goyah menghadapi berbagai tantangan zaman ke depan, termasuk di era digital saat ini.
Jika tidak demikian, jasa besar Guru Tua yang berjuang mencerdaskan anak-anak bangsa ini melalui pendirian Lembaga Pendidikan Alkhairaat, mungkin sulit menghadapi tantangan zaman ke depan.[]

