Sepatunya mungkin bukan yang paling mahal, tetapi semangatnya lebih besar dari siapa pun di sana pagi itu.
Di antara kerumunan pelari, Siti Nur sang ibu berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak ikut berlari di lintasan, tetapi setiap langkah Ayub adalah langkahnya juga, langkah seorang ibu yang mengubah pasir menjadi harapan.
Tidore bukanlah langkah baru bagi Ayub, sebab Ayub telah berulang kali menaklukan segala lintasan, mulai dari Ternate, Maitara, hingga Hiri, Ayub telah menjadi bagian dari cerita penaklukan lintasan running.
Ketika Abang Leman sang Wakil walikota mengangkat bendera start tanda Lintasan Tidore Family Run 2026 terbuka bagi para peserta, Ayub langsung tancap gas dan berlari. Bukan untuk menjadi yang tercepat, bukan untuk menjadi juara, Ia berlari untuk ibunya.
Dan di setiap jejak kaki kecil yang tertinggal di jalan Tidore pagi itu, ada kisah tentang cinta yang lebih kuat dari kemiskinan, tentang perjuangan yang lebih kokoh dari batu karang, dan tentang mimpi yang lahir dari butiran pasir.
