“Harapannya dalam Rakerda, semuanya dalam satu koridor yang sama, kemudian dalam bahasa dan visi yang sama untuk mensukseskan program bangga kencana, khususnya percepatan penurunan stunting,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Utara, Nuryamin menambahkan, prevalensi stunting setiap tahun cenderung fluktuatif di Indonesia, meningkat pada periode 2007-2013.
Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir, lanjut dia, menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia di angka 24.4% dengan disparitas yang lebar antar provinsi.
Sebab, rata-rata penurunan yang relatif lambat menjadi tantangan dalam kerangka percepatan penurunan stunting menjadi 14 % pada tahun 2024.
“Sementara data prevalensi stunting di Maluku Utara berdasarkan hasil SSGI tahun 2021 sebesar 27.5% mengalami penurunan pada tahun 2022. Sesuai data SSGI tahun 2022 sebesar 1.4% menjadi 26.1% dan mengalami penurunan berdasarkan survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 2,4% menjadi 23.7% , angka ini masih diatas rata-rata Nasional,” tambahnya.
