TERNATE– Perseturuan antara Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman dan mantan Sekda yang juga calon Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Ternate angkat bicara, karena kedua tokoh ini mestinya harus menjadi teladan bagi masayarakat Kota Ternate.
Ketua MUI Kota Ternate Usman Muhammad mengatakan, salah satu fungsi dan peran dari MUI adalah memberikan nasehat dan masukan, baik ke pemerintah maupun masyarakat, dengan diminta maupun tidak diminta.
Dia sendiri berharap kepada keduanya yakni Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman dan M. Tauhid Soleman, jika kemudian ada informasi atau hal lain yang dianggap tidak baik, maka perlu dilakukan tabayun.
“Sehingga nanti tidak menimbulkan menjadi opini masyarakat yang kemudian dia berkembang menjadi luas, sehingga itu nanti dinilai masyakat hal yang tidak bagus,” katanya Selasa (29/12/20). Menurutnya, untuk seorang pemimpin maupun calon pemimpin harusnya menjadi teladan, jika kemudian ada perbedaan dalam pandangan politik itu, kira suatu hal yang biasa.
“Jangan kemudian perbedaan itu dibesar-besarkan dan menjadi potensi renggan terputusnya silaturahim,” ucapnya. Dikatakannya, karena pemimpin dan calon pemimpin mestinya menjadi teladan sehingga ketika menyikapi perbedaan ada tiga hal yang harus di lalui yakni pertama harus di sepakati bahwa perberbedaan, kedua perbedaan itu dijadikan sebagai sebuah mozaik atau membuat kehidupan makin indah, ketiga perbedaan itu dijadikan sebagai sebuah kekuatan.
“Jadi saya berharap baik kepada pak Bur yang masih memimpin sekarang ini maupun pak Tauhid yang sementara hasil pilkada kemarin dikatakan pemenang, walaupun nanti keputusan akhirnya di MK, saya berharap berbesar hati dan jiwa besar kalau ada masalah yang harus di selesaikan, saya kira di selesaikan dengan kepala dingin, karena penyelesaian secara kekeluargaan itu jauh lebih terhormat dari pada menyelesaikan secara hukum, jadi kalau masih ada jalan tolong,” terangnya.
Apalagi kata dia, Burhan Abdurahman tinggal beberapa bulan lagi akan mengakhiri masa jabatannya sehingga dapat di sikapi dengan baik masalah tersebut, sehingga ketika akhir masa jabatannya akan menjadi suatu contoh yang luar biasa bagi masyarakat.
“Begitu juga dengan Tauhid, saya minta beliau pernah bersama dengan pak Bur selama menjadi Sekda sampai dua periode, saya kira jangan sampai lupa juga, hal-hal yang mungkin jelas sekian lama kebaikan dari pak Bur tidak boleh dilupakan, yang namanya manusia itu ketika berbuat salah atau keliru dalam bertindak itu hal yang biasa, jangan sampai pada suatu ketika membuat suatu kesalahan atau kekeliruan akhirnya kita tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan selama ini, seorang pemimpin itu bicara harus hat-hati karena itu bisa menjadi dampak,” pintanya.
Dia juga kwatir jangan sampai dengan masalah tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memperkeruh hubungan keduanya, sehingga dia mengharapkan kedua tokoh tersebut berjiwa besar untuk saling memaafkan. “Saya juga berencana akan mendatangi keduanya secara terpisah,” tutup dia. (cim)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

