TERNATE – Kehidupan mungkin sering membentuk pola yang berulang, atau suatu peristiwa yang bisa saja identik dengan masa lalu. Seringkali manusia menemui kisah yang bisa dikatakan serupa namun sudah di masa yang berbeda. Tak jarang orang menyebut ini dengan istilah “deja vu”.
Seperti yang terjadi pada laga pertandingan sepakbola Liga 1 Indonesia musim 2024/2025 yang terjadi di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Selasa (04/03/2025), saat Malut United FC menjamu tamunya Arema FC.
Mungkin sebelum laga itu berlangsung, orang tidak mengingat bahwa di venue yang sama, 18 tahun lalu, saat kompetisi sepakbola teratas di Indonesia masih bernama Divisi Utama dan melibatkan tim asal kebanggaan masyarakat Malut saat itu, Persiter Ternate.
Persiter memang pernah begitu lekat di hati publik Maluku Utara. Meski mengusung nama Ternate, namun tifosi beratnya tidak hanya warga di kota Ternate saja melainkan juga menjadi kebanggaan publik di Provinsi Maluku Utara karena menjadi satu-satunya tim yang berlaga di kompetisi terelit saat itu.
Pun sesal akan “menghilangnya” Persiter dari dunia sepakbola, kini terobati dan terbayar lunas dengan kehadiran tim kebanggaan baru yang memiliki nama lebih mewakili warga di provinsi ini, yakni Malut United FC, dan mulai bisa “move on” dari Persiter Ternate.

Nah, namun setelah laga Malut United dan Arema FC berakhir, publik pun terngiang akan kejadian di tanggal 15 April 2007 itu. Banyak peristiwa identik yang kemudian dihubungkan antara laga Persiter Ternate dan Malut United itu sendiri.
Koneksi pertama yang sudah pasti sama yakni terkait lawan yang dihadapi tak lain tim asal Jawa Timur kebanggaan masyarakat Malang itu. Dimana lawan yang dihadapi adalah Arema itu sendiri.
Keterhubungan lain yang kemudian dihubungkan yakni hasil akhir pertandingan yang juga identik. Dimana tim tuan rumah baik Persiter Ternate maupun Malut United FC sama-sama memenangi lagi dengan hasil 2-1.
Uniknya lagi, proses terjadinya gol-gol pun terjadi begitu identik. Dimana tuan rumah sempat memimpin 2-0 lewat Fandy Mochtar dan Mohammad Sholeh saat membela Persiter Ternate kala itu, sebelum dibalas menjadi 2-1 oleh Agung Yudha dari Arema. Sama seperti dua gol Diego “Chino” Martinez yang membawa Malut United unggul lebih dulu sebelum dibalas satu gol Muhammad Rafli di penghujung pertandingan.
Namun hal ikonik yang begitu identik yakni cara selebrasi kedua pemain beda era itu. Gaya merayakan gol yang dilakukan Fandy Mochtar memang mirip dengan model selebrasi Chino yakni bergaya seperti sedang menembak atau shooter. Bukan hanya sekali, namun itu sudah menjadi ciri khas kedua pemain ini usai menundukan kiper lawan.
Pun, jika jauh melirik ke belakang, keduanya sama-sama menikmati musim pertama berlaga di kompetisi nomor 1 Indonesia ini. Persiter yang saat itu baru menggenggam tiket promosi untuk berlaga di Divisi Utama Ligina XIII usai menempati posisi 3 pada Divisi 1 saat itu.
Begitu pula dengan Malut United yang baru menjalani musim pertamanya era Liga 1 Indonesia. Sama seperti Persiter, Malut United pun berhak naik kasta berkat raihan peringkat 3 Liga 2 Indonesia.
Ada pula satu sosok yang bisa menjadi keterhubungan antara Persiter vs Arema dan Malut United saat ini. Tak lain yakni putra Maluku Utara yang kerap melanglang buana ke berbagai klub di luar yakni Hengki Oba. Pada musim 2007/2008, Hengki yang kini menjadi bagian dari staf kepelatihan Malut United FC, adalah sosok salah satu penjaga gawang di skuad Arema saat itu.
Jadi, memang mungkin saja peristiwa 15 April 2007 dan 4 Maret 2025 adalah sebuah deja vu? Toh, mungkin setiap orang punya penilaian sendiri.*

