Sebagai solusi, Dinas Pendidikan telah melaksanakan pelatihan tenaga pengajar pada tahun 2025. Selain itu, dalam waktu dekat akan dilakukan koordinasi dengan Kantor Bahasa untuk menggelar pelatihan lanjutan yang melibatkan guru SD, SMP, serta komunitas.
“Kami tetap optimis, meskipun masih banyak kekurangan. Muatan lokal ini harus tetap berjalan karena menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya daerah,” tambahnya.
Saat ini, muatan lokal diterapkan pada siswa kelas 4 SD. Ke depan, program ini direncanakan akan mulai diperkenalkan sejak kelas 1 SD. Sementara itu, pembiasaan penggunaan bahasa daerah akan diterapkan di seluruh jenjang pendidikan.
Pemerintah daerah juga membuka peluang koordinasi dengan Kementerian Agama untuk memperluas penerapan program, meskipun saat ini fokus masih pada sekolah di bawah kewenangan pemerintah daerah.
Diharapkan, melalui program ini siswa mampu berbahasa daerah Tidore dengan baik, sementara tenaga pengajar semakin siap setelah mendapatkan pelatihan berkelanjutan, dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. (ute)
