Empat Bahasa Daerah di Malut Akan Direvitalisasi

Kepala kantor bahasa Maluku Utara

DARUBA – Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara (Malut), Arie Andrasyah Isa, mengatakan ada empat bahasa daerah di Malut yang akan direvitalisasi.

Hal ini diungkapkan Arie usai menggelar kegiatan penyuluhan bahasa dalam hukum di Hotel Molokai, Desa Juanga, Kabupaten Pulau Morotai baru baru ini.

Menurutnya, sebagaimana pemetaan Kantor Bahasa pada tahun 2019 lalu, ada terdapat 19 bahasa daerah di Malut. Namun, dari 19 bahasa tersebut, ada sebagian yang sudah tidak terdengar lagi.

“Bahasa sudah punah itu bahasa Ibu, (Halmahera Barat,red) dan bahasa itu hampir penutur tidak ada, dan Bahasa Bacan itu penutur tinggal sedikit. Jadi, dalam waktu dekat kami akan melaksanakan revitalisasi bahasa daerah di Malut. Ada empat bahasa daerah di Malut yang kami revitalisasi pertama, Bahasa Ternate, Bahasa Tobelo, Bahasa Makian Timur atau Makian Dalam dan Bahasa Sula, tersebar di beberapa wilayah sesuai dengan target kinerja kami di tahun 2022,” katanya.

Untuk revitalisasi Bahasa Tobelo, kata Arie, akan dilakukan di Kabupaten Pulau Morotai, walaupun bahasa itu hidup di tempat lain.

“Alasan revitalisasi karena besar penuturnya, sesuai dengan hasil rapat kami, revitalisasi bahasa belum punah, upaya ada model pemetaanya dan daya tahan masih lama, tapi bahasa daerah hampir punah tidak perlu lagi dipertahankan karena penutur sudah sedikit, lalu bahasa besar kelihatan penutur banyak dan diprediksi lima tahun bahasa akan berkurang dan tidak terasa akan habis penuturnya,” ujar Ari.

Dikatakan, kegiatan revitalisasi mungkin dilakukan selama satu tahun, dengan ketentuan kalau bahasa itu bisa direvitalisasi. Lanjutnya, revitalisasi bahasa dilakukan nanti akan melibatkan komunitas literasi di Malut.

“Konsepnya kami sebagai lembaga vertikal tidak masuk ke sekolah tapi ke komunitas literasi,” tutur dia. Ditanya, apa kendala yang dihadapi dalam pemetaan bahasa di Malut, dirinya mengaku banyak hal, namun bisa diatasi.

“Di Morotai ini, ada kebijakan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan literasi, kemarin sudah koordinasi dengan pak Bupati, untuk menggerakkan atau menaikan status bahasa daerah di sini, harus ditingkatkan penggunaanya di komunitas literasi terutama di komunitas literasi bahasa Tobelo-Galela. Usaha kami juga membuat kamus bahasa Tobelo dan untuk kamus Bahasa Galela sudah ada, makanya kami usahakan mau buat kamus Bahasa Tobelo sebagai bahan ajar yang akan diajarkan di siswa,” papar Ari.

“Maluku Utara ini adalah sumber dari bahasa daerah dan penuturnya tinggal beberapa, jadi kami sebagai lembaga pemerintahan terus berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah penutur bahasa melalui revitalisasi bahasa daerah,” pungkasnya. (fay)