Empat Pasien Covid-19 Meninggal Akibat Penyakit Bawaan

Pasien Covid-19 Meninggal waktu lalu

DARUBA – Saat ini jumlah pasien di Kabupaten Pulau Morotai yang divonis meninggal karena Covid-19 berjumlah empat orang. Akan tetapi, penyebab meninggalkan ke empat pasien tersebut, karena disertai dengan penyakit bawaan sehingga sulit disembuhkan jika terpapar Covid-19.

“Empat orang meninggal dunia itu memang karena ada penyakit bawaan yang menyerta,” ungkap juru bicara Satgas Covid-19 Pulau Morotai, dr. Novindra Humbas, Rabu (25/11/2020).

Misalnya, lanjut dia, pasien pertama yang meninggal dunia itu mengalami penyakit asma dan asam lambung, sedangkan pasien kedua itu mengalami sakit paru-paru atau TBC.

“Dari kasus memang itu penyakit bawahan yang menyerta yang komortif, kasus pertama itukan beliau ternyata ada penyakit asma dan asam lambung, karena memang terlambat bawa ke rumah sakit. Kalau yang kedua itu kalau tidak salah dia ada penyakit paru paru TBC juga sih,” katanya.

Begitu juga pasien yang ke tiga dari desa Korago, kata Novindra, juga mengalami sakit kanker darah atau Leo kimia. Sementara pasien ke empat asal desa Buhobuho mengalami sakit kanker rahim dan anemia.

“Anemia itu HB masuk enam, jadi dia sempat mengalami transfusi darah sudah nornal 12. Tapi memang kalau leo kimia kanker darah kalau tidak penanganan dengan cara protokol kangker itu susah tertolong, kan dia harus di laser,” papar Novindra.

Ia menambahkan, pada kasus pasien pertama, saat di rapid test awal memang non reaktif, namun gejalanya sakitanya khas Covid.

“Memang kasus yang pertama yang meninggal itu dia belum tetap, repid nya non reaktif, gejalanya khas Covid. Terus di swab belum keluar hasil sudah meninggal, dan penguburan besok hasilnya keluar lusa baru ketahuan (Covid). Sama dengan kasus kedua dari Desa Lusuo yang meninggal, begitu juga di swab hari ini meninggal dan di bawa pulang sudah dikuburkan baru hasilnya keluar malam,” timpalnya.

Sementara, pada kasus pasien ketiga dan ke empat yang sakit karena kanker darah dan kanker rahim sudah terdeteksi Covid-19 sehingga langsung di beri pelayanan di ruang isolasi.

“Kalau kasus yang ketiga dan ke empat ini memang sudah penanganan di isolasi Covid di Rumah Sakit. Jadi kita penanganan Covid sinikan pasien masuk langsung di skrening, jika ada gejala langsung di rapid, yang reaktif kita langsung transit ke ruang transit. Ruang transit ini untuk menunggu hasil PCR, dan di ruang transit satu dua hari langsung keluar hasil, jika hasilnya positif langsung masuk di ruang isolasi,” terangnya.

Novindra mengungkapkan, di Morotai sudah ratusan orang yang terkena Covid 19. Namun mereka berhasil sembuh. Penyembuhan itu bisa secara sendirinya tergantung imun seseorang.

“Covid inikan bisa sembuh sendiri, 14 hari sudah bisa sembuh dia tidak sama dengan HIV, dia prosesnya lama kalau kena dia dua tahun baru meninggal, enaknya kalau di Covid-19 inikan kalau sudah positif Covid dan sembuh bisa dikatakan sudah aman untuk pandemi ini. Dan jika terpapar yang ke dua kali sel memori imun tubuhnya langsung bisa meyerang virus Covid untuk membunuh.” tuntas Novindra. (fay)