Taufan Taufik
Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG
Indonesia adalah Negara yang terletak pada kawasan pertemuan lempeng aktif dunia dan berada pada cincin api pasifik (ring of fire).
Hal ini yang mengakibatkan mengapa kawasan Indonesia sangat aktif akan kejadian gempabumi. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mana kurang lebih terdapat 17.000 pulau yang terbentang di kawasan Indonesia, selain itu Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang ke dua setelah Kanada dengan panjang garis pantai Indonesia sebesar 99.093 kilometer.
Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selama tahun 2021 telah tercatat sebanyak 10.570 kali aktivitas gempabumi tektonik di wilayah Indonesia dengan variasi magnitudo dan kedalam kejadian gempabumi, hal ini diakibatkan karena adanya aktivitas lempeng tektonik yang berada di zona subduksi dan zona sesar aktif.
Bila kita tinjau kejadian gempabumi tahun 2020 hanya sebanyak 8.264 kali, tentunya pada tahun 2021 mengalami peningkatan akan kejadian gempabumi sebesar 27 % dari tahun lalu. Kejadian gempabumi signifikan yang terjadi pada tahun 2021 dengan magnitude diatas 5 terjadi sebanyak 244 kejadian sama dengan jumlah kejadian di tahun 2020.
Dari hasil monitoring BMKG mencatat gempabumi dirasakan pada tahun 2021 sebanyak 764 kali kejadian, jumlah ini meningkat bila dibangdingkan dengan tahun 2020 sebesar 754. Jika dilihat berdasarkan dampak yang ditimbulkan, gempabumi yang merusak terjadi sebanyak 23 kali gempabumi pada tahun 2021. Jumlah ini mengalami peningkatan yang signifikan bila ditinjau tahun 2020 hanya terjadi sebanyak 11 kejadian gempabumi merusak.
Gempabumi Berpotensi Tsunami
Kejadian gempabumi biasanya diikuti oleh dampak lainnnya, seperti pada umumnya yaitu getaran dipermukaan bumi. Namun ada beberapa kasus kejadian gempabumi tidak hanya dirasakan saja namun memberikan dampak kejadian susulan yang dapat membahayakan seperti tsunami.
Tahun 2021 telah terjadi gempabumi yang memicu kejadian tsunami sebanyak 2 kali. Pada umumnya kejadian tsunami disebabkan oleh gempa dengan magnitude yang cukup besar dan pusat gempa berada di laut dengan kedalaman dangkal.
Peristiwa gempabumi yang memicu tsunami yaitu gempabumi tanggal 16 Juni 2021 dengan magnitudo 6.1 yang terjadi di Maluku Tengah. Serta gempabumi pada tanggal 14 Desember 2021 dengan magnitudo 7.4 yang berada di Laut Flores.
Gempabumi Magnitudo 6.1 di Maluku Tengah
Siang hari pada Rabu tanggal 16 Juni 2021 masyarakat Maluku dikagetkan dengan kejadian gempabumi yang cukup kuat dirasakan. Gempabumi dengan kekuatan 6.1 terjadi di koordinat 3.39 LS dan 129.56 BT dengan kedalaman 19 km terjadi tepat di daerah pantai dekat kota Masohi, Maluku Tengah.
Hasil analisa menunjukan gempabumi ini mempunyai mekanisme patahan turun yang diakibatkan aktivitas sesar lokal. Gempabum Masohi ini cukup kuat dirasakan oleh masyarakat sekitar dengan intesitas sebesar IV MMI.
Berdasarkan sistem BMKG gempabumi ini tidak berpotensi tsunami, namun kenyataanya terjadi tsunami kecil diperairan masohi dengan ketinggian 50 cm. Tsunami ini terjadi akibat adanya longsoran dasar laut yang terjadi di daerah pantai tersebut.
Gempabumi Magnitudo 7.4 di Laut Flores
Baru-baru ini Indonesia digemparkan dengan kejadian gempabumi yang cukup kuat. Tanggal 14 desember 2021 gempabumi dengan magnitudo 7.4 terjadi di Laut Flores.
Berdasarkan hasil analisa BMKG gempabumi yang terjadi pukul 10:20:23 WIB berada pada koordinat 7,59 LS dan 122,24 BT yang berada di laut dengan jarak 112 km Barat Laut Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempabumi dengan magnitude 7.4 ini berada pada kedalaman 10 km dan berpotensi tsunami.
Bila dilihat dari mekanisme yang terjadi berdasarkan lokasi dan kedalaman gempabumi ini mempunyai mekanisme pergeseran mendatar ( Strike Slip Fault ) yang diakibatkan adanya sesar aktif yang berada di Laut Flores.
Dari pantauan alat pengukur ketinggian gelombang ( tide gauge ) terjadi perubahan ketinggian yang tercatat di stasiun Tide Gauge Marapokot ( NTT ) dan stasiun Tide Gauge Reo ( NTT ) dengan ketinggian 7 cm. Hasil monitoring BMKG hingga tanggal 31 desember 2021 tercatat sebannyak 1.348 gempabumi susulan di Laut Flores.
Berdasarkan catatan sejarah tsunami yang pernah terjadi di daerah kepulauan Sunda Kecil ( Bali, NTB, NTT ) yang terjadi dari tahun 1800an hingga sekarang sudah tercatat sebanyak 22 kali. Bila kita hitung kejadian tsunami terhadap waktu maka rata-rata pada kurun waktu 11 tahun terjadi tsunami di daerah tersebut.
Gempabumi Magnitudo 7.4 di Laut Banda
Tanggal 30 desember 2021 kita dikagetkan dengan gempabumi yang cukup kuat yang terjadi di perairan Indonesia. Gempabumi dengan magnitudo 7.4 terjadi pada pukul 01:25:53 WIB dengan lokasi pusat gempabumi berada di 7.68 LS dan 127.55 BT dengan kedalaman 183 km. Gempabumi ini berada 132 km arah timur kota Tiakur, kabupaten Maluku Barat Daya. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan telah terjadi 15 kali gempa susulan dengan variasi magnitudo 3.7 hingga magnitudo 5.3.(*)

