Kepala Satpol PP Kota Ternate, Fhandy Mahmud, boleh menyesalkan insiden ini, tetapi penyesalan saja tidak cukup! Kejadian ini adalah bukti nyata dari kegagalannya dalam membina dan mengawasi bawahannya. Jika tindakan represif semacam ini bisa terjadi di depan publik, bayangkan apa yang bisa terjadi di balik layar! Apakah kita masih bisa percaya pada Satpol PP yang seharusnya mengayomi masyarakat, tetapi justru bertindak sebagai preman berseragam?
Kekerasan terhadap jurnalis tidak boleh ditoleransi dalam kondisi apapun! Jurnalis adalah garda terdepan dalam mengawal demokrasi dan menyampaikan kebenaran kepada publik. Jika kekerasan ini dibiarkan, maka akan semakin banyak kasus serupa terjadi di masa depan, mengancam kebebasan pers dan hak rakyat untuk mendapatkan informasi yang jujur dan objektif.
Pemerintah Kota Ternate harus menjamin bahwa ini adalah kali terakhir jurnalis diperlakukan seperti musuh. Setiap aparat, termasuk Satpol PP, harus dipaksa memahami bahwa kebebasan pers adalah pilar utama demokrasi. Selain itu, regulasi yang lebih ketat harus diterapkan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi aparat yang berpikiran feodal dan otoriter.
