WEDA – Moment peringatan hari jadi Ke-30 Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) dilaksanakan secara sederhana lantaran kondisinya masih di tengah pandemi Covid-19.
Sebagaimana diketahui usia pemerintahan Halteng sudah mencapai 30 tahun, meskipun secara defakto pemerintahan di daerah ini melaksanakan fungsi pelayanannya di Ibukota Weda baru dalam kurun waktu 13 tahun.
Bupati Halteng, Edi Langkara menuturkan momentum HUT yang ke-30 ini, pelaksanaannya dirasakan berbeda dengan tahun sebelumnya, sebab saat ini bangsa dan negara bahkan dunia, dilanda wabah Covid-19 yang tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun berdampak pula pada aspek ekonomi sosial budaya dan aspek lainnya.
“Karena itu pula, melalui peringatan HUT yang ke 30 ini, saya mengajak kepada kita semua untuk melakukan introspeks, dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, seraya terus berdoa dan senatiasa mematuhi protokol kesehatan semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir dan kita semua dapat beraktifitas sebagaimana biasa,” ucap Edi.
“Hari ini tanggal 31 Oktober 2020, pada 30 tahun yang silam, daerah ini resmi berdiri menjadi sebuah daerah otonom dengan Ibukota Soasio, Tidore ketika itu, yang pada kesempatan ini kita bersama-sama merefleksikan kembali sejarah perubahan dan peradaban Negeri Fagogoru ini, dengan seraya memastikan agar tidak ada kelompok masyarakat yang terabaikan dalam proses dan pelayanan pembangunan,” tegasnya.
Karena itu, lanjut Edi dalam pidatonya mengaku tema dalam HUT Kabupaten Halteng kali ini adalah “KITA FAGOGORU”. “Tema tersebut memaknai filosofi Ngaku Rasai, Budi re Bahasa, Sopan Hormat, Mitat re meymoe yang menjadi pilar terpenting dan tidak terpisahkan dalam derap langkah kehidupan masyarakat Halteng,” akunya.
Sekjen DPP Golkar itu juga menyampaikan fagogoru tidak sekedar menjadi simbol dan narasi lipstik belaka, melainkan memiliki nilai kultural, filosofi, sosiologis dan historis sekaligus spirit perjuangan yang perlu diaplikasikan dalam prilaku setiap mahluk sosial untuk membangun kesetaraan dan keadilan menuju Halteng yang sejahtera dalam dimensi kemanusian yang beradab dibawah panji-panji fagogoru Pulau Gebe, Weda dan Patani.
Dalam semangat fagogoru dapat disampaikan, bahwa sejak awal pemerintahan Elang-Rahim yang dilantik pada tanggal 27 Desember 2017, sejak itu kepemimipinan Elang-Rahim melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tanpa perbedaan atau dengan kata lain membangun Halteng tanpa perbedaan.
“Hal ini penting kami tegaskan mengingat sejumlah kasus pemerintahan dibeberapa daerah bahkan pada pemerintahan Halteng sebelumnya yang membangun dan atau melaksanakan tugas pemerintahan dengan bertumpuh pada faksi-faksi politik lokal melayani masyarakat dengan pilih kasih,” tuturnya.
“Sesungguhnya secara sadar mereka telah melanggar sumpah jabatan, mendistorsi pembangunan, mendistorsi kesetaraan dan keadilan,” singgung bupati.
Dikatakannya arah kompas pembangunan terbelokkan oleh keangkuhan kekuasaan dan kesombongan. Sikap absolutisme kekuasaan sungguh telah mengabaikan dimensi-dimensi sosial kita. “Rasa kasih sayang kita menjadi hilang, rasa hormat kita menjadi sirna, rasa takut kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa lenyap ditelan waktu, budi dan bahasa kita bagaikan serigala yang memangsa mangsanya tanpa ampun,” pungkasnya.
Belajar dari pengalam empiris itulah Elang-Rahim, bersumpah untuk mengubur secara dalam-dalam rasa benci, kesenjangan sosial pembangunan dan perilaku dendam pilitik yang sesungguhnya tidak memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Dengan menelorkan tema KITA FAGOGORU pada HUT yang ke 30 ini sungguh syarat akan makna dan nilai,” akunya. Tema sederhana ini sekaligus menegaskan bahwa spirit kehidupan masyarakat kita harus selalu dalam demensi dan cita-cita fagogoru, kita bersaudara.
Pemerintah dan rakyat adalah ibarat sisi mata rantai yang saling mengikat dan tak bisa dilepaspisahkan. “Masyarakat Gebe-Weda-Patani secara historis dan kultural adalah masyarakat yang bersaudara,” bebernya.
Pemerintahan Elang-Rahim bertekad untuk secara sungguh-sungguh mengusung falsafah fagogoru sebagai pilar pembangunan. Kami nyatakan, kami membangun daerah ini dengan landasan kasih sayang, kami membangun masyarakat tanpa perbedaan.
Dengan berpijak pada 5 misi pembangunan yakni 1. Birokrasi yang bersih, profesional dan melayani, 2. Infrastruktur dasar dan konektifitas wilayah, 3. Mengembangkan sumber daya alam dan iklim investasi yang nyaman, 4. Pendidikan dan kesehatan merata dan bermutu dan 5. Budaya hukum dan HAM dan bingkai fagogoru.
Sejumlah capaian dan prestasi telah diukir, meskipun masih banyak harapan yang belum seluruhnya digapai. Karena itu melalui momentum tersebut, dirinya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Halteng karena usia 3 tahun pemerintahan tentu banyak kebijakan yang belum tuntas dikerjakan, namun pihaknya sampaikan bahwa seluruh rumusan kebijakan dalam RPJMD maupun dalam kebijakan tahunan pada APBD akan kami tuntaskan pada sisa masa 2 tahun Pemerintahan.
“Tentu dengan izin Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, kiranya kita semua diberikan kekuatan lahir bathin. Hanya doa dan harapan agar kita semua tergolong orang-orang yang sabar. INNAMA ASSABIRIN,” urainya. (udy)

