Kalender Adat Tidore Milik Arifin Abbas Bikin Mendikbud Ristek Takjub

Setelah melalui verifikasi substantif yang diuji langsung di lapangan, perwakilan Mendikbud Ristek kemudian takjub dengan karya Arifin dalam menyusun Kalender Adat Tidore. 

Keunikan Kalender Adat Tidore yang diciptakan Arifin, diakui Mendikbud Ristek terdapat unsur Filologi, Linguistik, Semiotika dan Sejarah Peradaban. Bahkan berkat penemuan Arifin, membuat perwakilan Mendikbud Ristek mengakui bahwa budaya Tidore sangat luar biasa.

“Penelitian yang saya lakukan ini untuk membaca tanda-tanda alam ini selama dua tahun setengah, lokasinya itu di Seli, Kalodi dan Paceda. Di Seli saya melihat bunga rumput laut mengapung diatas air, di Kalodi saya mengecek burung Maleo bertelur dan di Paceda itu saya melihat Penyu bertelur,” jelasnya.

Menariknya, Kalender Adat Tidore, juga dapat menentukan hari baik dan buruk (Nahas), untuk manusia melakukan aktifitas, serta dapat mengetahui kapan datangnya gerhana bulan dan matahari. 

Serta mengetahui dengan pasti jatuhnya 1 Ramadhan yang acap kali terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

“Untuk hari naas itu diharamkan memulai pekerjaan, hal itu bersesuaian dengan dalil para leluhur di Tidore, yakni Awal Kurie Salah, Turu Majako Lenge, artinya jika awal melakukan sesuatu di waktu yang salah, maka akhirnya akan berpeluang bermasalah, seperti di petani hasil panen tidak jadi, atau bisa jadi muncul sebuah musibah bagi orang yang mau memulai pekerjaan,” tambahnya.

Kalender Adat Tidore milik Arifin, juga menjadi pembeda bagi kalender masehi maupun kalender imlek dan kalender jawa. Bahkan dalam penghitungannya, itu tidak pernah meleset untuk menentukan pergantian bulan, tahun dan penetapan hari. 

Kini, kalender milik Arifin, telah di launching secara resmi oleh Pemerintah Kota Tidore dan dibagikan kepada masyarakat.

“Saya melakukan ini semua berawal dari rasa penasaran atas pernyataan orang-orang di Tidore tentang hari naas dan perdebatan tentang penentuan waktu ketika memasuki bulan suci ramadhan, dan itu saya mulai sejak tahun 2013,” tuturnya.

Penelitian yang dilakukan Arifin sehingga melahirkan Kalender Adat Tidore, sebelumnya hanya mendapat dukungan dari istrinya, Ratna Djamaludin yang berprofesi sebagai seorang guru di SMK Negeri 1 Tidore.

Mulai dari pembiayaan maupun fasilitas, untuk dirinya mencari tahu tentang misteri Falakiah atau yang dikenal dengan ilmu penentuan waktu berdasarkan gejala alam atau Ilmu Antariksa.

“Waktu itu saya sempat pesimis dengan aktifitas suami saya, bahkan saya mengira dia akan gila, namun saat ini saya bersyukur karena karyanya telah diakui dan dihargai oleh Negara,” cetus Ratna.

Lebih lanjut, Ratna mengaku jika suaminya membuat Kalender Adat Tidore, agar dapat memudahkan kaum milenial untuk mengetahui hari baik, misalnya seperti penentuan hari untuk penyelenggaraan akad nikah sebagaimana yang dilakukan orang tua-tua di Tidore, beserta acara-acara lainnya.

Sekedar diketahui, Arifin merupakan salah satu aset berharga milik Kota Tidore, karena ia telah banyak berkontribusi terhadap Tidore dalam mendorong kebudayaan milik Tidore untuk mendapatkan Hak Cipta dari Kemenkumham, salah satunya ia sukses mencetus 21 Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) milik Tidore yang saat ini telah diakui oleh Kemenkumham RI.

Selain itu, Arifin juga menjadi otak dari narasi kebudayaan yang ditampilkan pada Acara Sail Tidore dan Marasante. (ute)