Mulai dari Puskesmas Kalumata dengan jumlah kasus terbanyak, kemudian Puskesmas Kalumpang, Puskesmas Kota, Puskesmas Siko, Puskesmas Bahari Berkesan, hingga Puskesmas Sulamadaha.
“Itu untuk dalam kota, tapi kalau untuk tiga pulau terluar (Batang Dua, Hiri, dan Moti) kita belum cover, dari data surveilans itu belum ada kasus,” ungkapnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, secara teknis sudah dikeluarkan surat edaran Walikota untuk seluruh instansi maupun lintas sektor terkait, baik Diknas hingga TP PKK untuk berkolaborasi guna mengajak seluruh masyarakat, supaya memanfaatkan salah satu kegiatan yang nantinya akan dilaksanakan untuk mengantisipasi meluasnya kasus campak. Kegiatan yang dimaksud adalah imunisasi masal.
“Imunisasi masal akan segera dilakukan, dan sementara ini sedang dilakukan oleh teman-teman di wilayah kerja Puskesmas dan terkoordinir dari Dinkes melalui Bidang Pencegahan Penularan Penyakit (B2P),” kata Fathiyah. Imunisasi secara massal akan mencakup kasus campak di setiap kelurahan hingga ke RT.
“Kira berharap dengan diperluas sasaran atau imunisasi secara masal, akan terbentuk kekebalan kelompok hingga akhirnya dapat memutuskan mata rantai penularan. Kemudian kita juga akan mengajak masyarakat untuk pola hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
Selain itu, dia juga menjelaskan, penularan penyakit campak ini melalui saluran pernafasan, dengan masa inkubasi yang cepat, yakni 4 hari sebelum dan empat hari sesudah.
“Yang sakit juga sangat rentan untuk menular terhadap orang yang sehat, apalagi orang yang tidak pernah diberikan imunisasi, bahkan orang dewasa juga punya kemungkinan untuk menderita campak dengan riwayat tidak pernah diimunisasi campak,” terangnya.
