DARUBA – Wakil ketua Komisi I DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Basri Rahaguna mengatakan ada penetapan tarif tiket yang tak wajar oleh KM Ratu Maria, khususnya anak-anak yang tiketnya dinaikan sama dengan tarif orang dewasa.
Informasi ini ia terima dari salah satu warga Desa Gamlamo. Bahkan ia telah mendapatkan bukti tiket anak masih dibawah umur dikenakan tarif tiket Rp 170 ribu atau setara harga tiket orang dewasa.
Basri Rahaguna berjanji jika masa sidang telah dibuka maka pihak KM Ratu Maria maupun Dinas Perhubungan akan dipanggil untuk dimintai penjelasan.
“Kami akan pangil Satgas Covid-19, Dinas Perhubungan dengan pihak KM Ratu Maria untuk meminta penjelasan terkait tiket anak dibawah umur setara dengan orang dewasa, inikan pembodohan terhadap rakyat Morotai,” kata Basri Rahaguna kepada wartawan, Senin (29/6) kemarin. Menurutnya, dimasa wabah virus Corona, harusnya masyarakat diberikan keringanan bukan sebaliknya, karena kondisi Covid 19 saat ini mata pencarian masyarakat tidak ada.
Sementara itu, (Kadishub) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pulau Morotai, Ahdad Hi Hasan saat dikonfirmasi mengatakan berdasarkan undang-undang yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan, memang tidak bisa dibenarkan jika harga tiket anak harus sama dengan orang dewasa.
Untuk anak harusnya hanya 70 persen dari harga tiket orang dewasa. Dan informasi soal harga tiket KM Ratu Maria, juga telah diterimanya, namun pihaknya tidak bisa menyalahkan pihak kapal, karena memang ada kebijakan dari Satgas Covid-19 Kabupaten Pulau Morotai soal pembatasan jumlah penumpang yang hanya 75 orang. Jika ada penumpang yang membawa anak maka tetap dihitung berdasarkan jumlah jiwa yang telah ditetapkan. Dengan alasan itu maka pihak kapal menaikan harga tiket untuk anak.
“Jadi bukan hanya orang dewasa tetapi anak-anak dan bayi juga dihitung, sehingga setiap kapal masuk terdapat kelebihan penumpang, karena hitungannya perjiwa, masalah ini bukan maunya pihak kapal tetapi karena Pemda yang tidak mau kompromi, yang jelas kalau situasi normal saya akan menegur mereka, namun karena kondisi seperti ini tidak normal sehingga saya tidak berani menegur,” ujar Ahdad Hasan. (fay)

