Dia menambahkan, pola dapur induk dan dapur penunjang juga diterapkan di wilayah Oba. Selain dapur induk di Desa Bale, disiapkan dapur penunjang di Desa Kususinopa. Begitu pula di Oba Selatan, selain dapur utama di Desa Wama, tengah dirancang dapur penunjang di sekitar Desa Lifofa atau Desa Tagalaya.
Dalam pengecekan langsung ke dapur dan sekolah- sekolah, dirinya memastikan bahwa ketersediaan bahan baku relatif aman. Selama sekitar empat hingga lima bulan pelaksanaan program, hampir seluruh bahan baku berasal dari wilayah Kota Tidore Kepulauan.
“Untuk saat ini, yang masih disuplai dari luar daerah hanya ayam dan telur, karena ketersediaan peternak lokal belum mencukupi. Sementara bahan baku lainnya semuanya berasal dari Tidore, termasuk tenaga kerja yang semuanya merupakan putra-putri daerah,” ungkapnya.
Terkait penerima manfaat, Sarmin menegaskan bahwa hasil pemantauan Komisi I di sejumlah sekolah belum menemukan adanya keluhan, baik dari pihak sekolah maupun siswa.
“Dari hasil cross-check kami, siswa dan sekolah justru merasa bersyukur dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis ini. Sampai hari ini belum ada keluhan yang kami temukan,” pungkasnya. (ute)
