La Nina Mengancam, Warga Diminta Waspada

Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas 1 Babullah Ternate
Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas 1 Babullah Ternate

TERNATE – Fenomena La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik diprediksi akan mengakibatkan anomali cuaca berupa peningkatan curah hujan yang terjadi di Tanah Air. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), prakiraan dampak La Nina terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021. 

Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sudah memasuki musim hujan sejak Oktober hingga November 2020. Dan Maluku Utara masuk sebagai wilayah yang berpotensi terdampak fenomena La Nina dan diprediksi akan berlangsung hingga tahun 2021 mendatang. 

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG Sultan Babullah Ternate Setiawan mengatakan, sejak September silam, pemantau pergerakan dinamika atmosfer global telah melihat masa awal berkembangnya fenomena La Nina. Fenomena ini diperkirakan terjadi hingga April 2021. 

“Untuk September dan Oktober, itu masih terjadi La Nina (berkategori) lemah. Namun mulai November tahun ini La Nina-nya diprediksi memiliki kekuatan menengah,” katanya, Rabu (04/11/2020).

Dikatakannya, La Nina  merupakan fenomena terjadinya perbedaan tekanan yang ada di atlantik timur yang mewakili Amerika Latin dengan daratan di Indonesia dan Australia. Perbedaan tekanan itu menurutnya, menyebabkan adanya pergerakan massa udara yang ada di wilayah pasifik timur menuju pasifik barat.

“Karena di wilayah timur seharusnya kondisinya hangat, tapi sekarang lebih dingin, maka ia mendesak massa udara ke yang lebih hangat. Kebetulan juga siklus angin muson dari Asia masuk ke wilayah kita, dan dikuatkan dengan adanya La Nina maka pertumbuhan uap air semakin besar,” jelas dia.

Menurut dia,  tidak semua wilayah Indonesia bakal terdampak fenomena ini. Sumatera, misalnya  diperkirakan dampak La Nina tak terlalu signifikan. Namun untuk Maluku Utara, pengaruh dari fenomena ini akan sangat terasa, terutama di wilayah Halmahera, sebab akan menjadi daerah yang terdampak secara langsung oleh La Nina.

Pada fenomena ini, curah hujan akan jauh lebih tinggi dibanding keadaan normal. Karena jika biasanya curah hujan hanya 150 mm, pada kondisi La Nina akan menjadi 250 – 300 mm. “Prediksi kami, untuk sebagian besar wilayah Maluku Utara, curah hujan akan tinggi pada akhir Desember hingga akhir Januari.  Sedangkan di bagian selatan seperti Taliabu, puncaknya di Juni dan Juli 2021,” ungkapnya.

Selain itu, kata  dia, tak hanya meningkatnya curah hujan, La Nina juga berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan angin, yang kemudian berpengaruh juga pada tinggi gelombang.  Dan dengan kondisi seperti itu, bisa menyebabkan banjir, tanah longsor, banjir bandang, atau gelombang tinggi.  Untuk itu pihaknya mengimbau agar masyarakat menghindari berada di bawah pepohonan ketika terjadi hujan lebat, mengingat bakal terjadinya angin vertikal. 

“Pelayaran juga perlu diwaspadai, karena jarak pandang menjadi pendek, atau gelombangnya menjadi lebih tinggi,” terang dia.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Ternate M. Arif Gani menyebutkan, pihaknya sudah bersiap menghadapi La Nina. Bahkan pagi kemarin, bertempat di Lapangan Salero, telah dilaksanakan apel gabungan untuk konsolidasi mitigasi bencana dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi dampak La Nina. “Yang jelas kami sudah siaga. Kami juga sudah aktifkan posko, baik di kantor maupun di Pantai Kotabaru,” kata dia.

Menurutnya, Posko gabungan itu melibatkan sejumlah pihak, seperti Dinas Perhubungan, Basarnas, Kepolisian, dan TNI.  Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khusus masyarakat yang mendiami kawasan sekitar kali mati agar perlu berikhtiar dan mengantisipasi terjadinya banjir.

Begitu juga dengan masyarakat di Hiri, Moti, dan Batang Dua juga perlu mengantisipasi adanya perubahan cuaca yang mengakibatkan gelombang tinggi, tanah longsor, dan banjir. “Saya mengimbau agar tetap mewaspadai, karena kita juga akan terdampak, “ pintanya.(cim)