Lirik Potensi Pariwisata, Tawarkan Bangun Ultra Premium Resort

Dikatakannya, pariwisata kategori Utra Premium Resort di dunia hanya ada 5 tempat dan jika memang Pemda Halteng dan IWIP bisa membuka peluang itu, maka Halteng akan menjadi yang ke enam dalam hal pariwisata kelas internasional kategori Ultra Premium Resort tersebut. “Bahkan Lombok yang begitu pesat namun belum masuk dalam kategori Ultra Premium Resort,” akunya.

Lima tempat Ultra Premium Resort di dunia tersebut dikatakannya adalah Grand Resort Lagonissi Royall, Yunani (720 juta/malam/orang), Laucala Island Resort Hilltop Estate, Kepulauan Viji, Bulgari Resort (Dubai), dan Necker Island, Inggris (816 juta per malam). “Bayangkan saja jika di Halteng juga memiliki Ultra Premium Resort maka bisa jadi kita menawarkan dengan harga ratus juta juga,” sebutnya.

Banyak potensi di Halteng yang bisa dikelola untuk menjadi pariwisata berkelas ultra premium. Bahkan saat ini telah memiliki agensi di Eropa, Amerika, Hongkong, Jepang, India. Kesemuanya ingin datang ke Halteng namun dari sisi tempat belum siap dan memang belum ada. “Saya punya agensi di luar negeri dan dorang (mereka) mau datang cuma tempat yang belum siap,” akunya.

Dia menjelaskan, Ultra Premium Resort itu pelayanannya lebih kepada privasi. “Fasilitas itu tempatnya privasi. Tidak ada tamu lain, multi millionaire yang mencari prestice, hanya dia saja yang dilayani. Tapi meskipun hanya satu tamu tapi nilai tawar bisa mencapai ratusan juta dalam sehari menginap,” jelasnya.

Sisi yang lainnya adalah setiap tamu bisa dijamu sesuai dengan agenda yang ditentukan, misalnya tarian lokal, makanan segar misalnya mancing ikan langsung diolah dan disajikan, dan penganan lokal lainnya. “Ini artinya akan mendatangkan tenaga kerja lokal yang besar. Sekitar 1050  orang tenaga kerja,” tegasnya.

Dari total tenaga kerja itu bisa dibilang 50 karyawan tetap dan 1000 karyawan untuk supporting. “Misalnya di Bitung kita sering tampilkan Kolintang, sesuai dengan ciri khas budaya lokal di sana. Dan bisa jadi di Halteng ke depan juga akan terkonsep seperti itu,” tuturnya.

Kesemuanya itu, Roland mengatakan membutuhkan nilai investasi sebesar 8 sampai 10 juta dollar. Tinggal mencari investor, kemudian menentukan lokasinya. “Untuk lahan sendiri, membutuhkan sekitar 10 hektar di pesisir pantai,” bebernya.

 “Termasuk daya tarik orang Togutil itu juga bisa ditampilkan dengan ciri khas suku asal Halmahera Tengah atau Maluku Utara pada umumnya. Konsepnya adalah menonjolkan makanan khas daerah. Misalnya ada air guraka, kacang rebus yang baru dipanen, jagung rebus atau jagung bakar dan makanan lokal lainnya,” terangnya.

Bahkan ikan bakar segar yang dipancing langsung diolah. Hal-hal seperti itu yang punya daya tarik tersendiri, terlepas dari daya tarik panorama alam dan daya dukung lainnya tersebut.

Karena menurutnya, Maluku Utara adalah provinsi di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, namun itu semua belum berdampak signifikan kepada masyarakat. Untuk itu kehadiran ultra premium resort bisa membantu menjawab itu.

Tak itu saja, Roland merinci target sebanyak 7000 tamu misalnya dalam satu tahun bisa mendatangkan income yang besar. “Dan kalau konsep, ide serta gagasan Pemda dan IWIP bisa mewujudkannya, maka akan menjadi sejarah baru di Indonesia di sektor pariwisata. “Kalau terwujud bisa jadi sejarah baru di daerah,” uraiannya.

 “Jadi pembangunan fasilitas resort itu butuh waktu satu 1 tahun dan masuk pada pembangunan kedua adalah grand opening. Dan secara kalkulasi ekonomi dalam jangka waktu 30 bulan sudah bisa balik modal,” ucap Roland merinci.

Untuk itu, dalam rinciannya target investasi sebesar 10 juta dollar atau sekitar 150 miliar rupiah. Dan nilai investasi itu seandainya CSR (Corporate Social Responsibility) PT. IWIP bisa menanggung setengah dari itu sudah sangat baik. “Jadi saat ini desainnya sudah dibuat dalam bentuk layout. Dan desainer atau arsiteknya orang Indonesia asal Bali yang juga punya pengalaman mendesain Resort di Maldives,” akunya lagi. (udy)