“Sebelum datang ke Pulau Obi, kami mempelajari kondisi Desa Soligi dan melihat kawasan ini sangat dekat dengan pesisir. Karena itu, kami menginisiasi penanaman mangrove sebagai salah satu upaya untuk membantu mengurangi risiko abrasi sekaligus melindungi masyarakat,” ujarnya.
Kolaborasi ini juga melibatkan Komunitas Tongke yang selama ini mengelola nursery mangrove di Desa Soligi. Seluruh bibit yang ditanam berasal dari pembibitan yang dirawat masyarakat setempat, sehingga upaya rehabilitasi telah dimulai sejak tahap pembibitan dan akan berlanjut melalui pemeliharaan setelah penanaman.
Namun, penanaman hanyalah langkah awal. Keberhasilan rehabilitasi ditentukan oleh kemampuan mangrove bertahan dan tumbuh menjadi ekosistem yang mampu melindungi pesisir. Karena itu, pemantauan dan penyulaman menjadi bagian penting setelah penanaman dilakukan.
Marine Environmental Monitoring Foreman Harita Nickel, Aldico Satria Ganesa, menjelaskan bibit mangrove yang baru ditanam masih rentan terhadap gelombang, arus, dan material yang terbawa air. Karena itu, perusahaan bersama para mitra akan melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan pertumbuhannya berjalan optimal.
“Mangrove yang baru ditanam masih membutuhkan pendampingan. Kami akan melakukan monitoring dan penyulaman bila diperlukan agar bibit dapat tumbuh dengan baik. Ketika mangrove berkembang, manfaatnya akan kembali dirasakan masyarakat sebagai pelindung alami kawasan pesisir,” katanya, melalui keterangan tertulis, Senin, (10/10/2026)