DARUBA – Belum juga mendapatkan solusi terkait pungutan biaya akhir studi, puluhan mahasiswa Universitas Pasifik (Unipas) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) Pulau Moritai, kembali menggelar aksi lanjutan di kantor DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Rabu (3/3/2021).
Dalam tuntutannya, para mahasiswa mendesak DPRD agar segera memanggil Dinas Pendidikan serta pihak Inspektorat untuk meminta kejelasan terkait masalah dana bantuan Pemkab Pulau Morotai terkait biaya akhir studi kepada mahasiswa.
Alasannya, karena pihak Kampus masih melakukan pungutan untuk biaya akhir studi kepada mahasiswa dengan alasan belum ada realisasi dari Pemkab Pulau Morotai.
Dalam aksinya itu, para mahasiswa juga membawa spanduk yang bertulisan ‘Terjadi Punggutan, Benarkah Unipas Gratis? Siapa Dalangnya?’.
“Kepada DPRD kami meminta dihari ini juga segera memanggil Dinas Pendidikan dan Inspektorat, kami hanya meminta kejelasan terkait dengan anggaran, apakah itu betul pemerintah daerah telah mengucurkan anggaran dipihak kampus?. Ataukah pihak kampus yang benar, bahwa ini belum dicairkan anggarannya dari pemerintah daerah, sehingga apa? Dikenakan punggutan di seluruh mahasiswa,” koar Naim salah satu orator.
Mereka juga mendesak DPRD untuk mendatangi pihak Kampus untuk mencari kejelasan terkiat masalah ini.
“Banyak problem yang terjadi di Pulau Morotai, menyangkut dengan kepentingan pendidikan seluruh mahasiswa Universiatas di Pulau Morotai hari ini. Kampus sebagai sistem pendidikanformal yang harus kita terapkan di Pulau Morota tetapi apa? Pemda dan DPRD mengabaikan kampus,” cetus Ul orator lainnya.
Mereka pun mendesak DPRD, agar serius dengan masalah pungutan akhir studi mahasiswa, dan tidak mengempentingkan masalah lain.
“Pemerintah daerah membangun infastruktur tetapi SDM secara pendidikan yang ada di Pulau Morotai telah menurun drastis. Untuk kepentingan pendidikan banyangkan di tahun 2019 kami tahu benar bahwa anggaran yang diplot melalui APBD untuk pendidikan sebesar kurang lebih 5 miliar, tetapi apa rotasi dan birokrasi terjadi di tahun 2020 menurun drastis,” tandas Ulen. (fay)
