Merajut Kebudayaan dengan Ekofeminisme

Nurunnisa Hafel

Nurunnisa Hafel Mahasiswi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Ternate

“Dengan demikian perempuan secara karakteristik sama dengan alam, maka, ia bersifat sebagai perawat, penjaga dan pelestari alam”

Ekofeminisme merupakan sebuah gerakan yang muncul di kalangan perempuan di berbagai belahan dunia dari berbagai macam profesi sebagai akibat adanya ketidakadilan terhadap perempuan yang selalu dimitoskan dengan alam (lingkungan). Dalam definisi yang lain ekofeminisme adalah varian yang relatif baru dari etika ekologis (ilmu tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan lingkungan). 

Menurut Dr. Gadis Arivia bahwa Ekofeminis adalah hubungan lingkungan dengan perempuan. Ekofeminisme sendiri terdiri dari dua kata yakni ; “Eko” dalam ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu Oikos yang mempunyai arti tempat tinggal dan Feminism adalah gerakan dan ideology yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi maupun public, dan tentang equal right. Bahkan, sangat logis juga jika kita mengatakan isu ekologi sama halnya dengan isu feminism.

Ingin mengulik sedikit Istilah dari Ekofeminisme; bahwa Ekofeminisme ini sebenarnya telah ada sejak dahulu dengan gagasan-gagasan lama, dengan istilah baru yakni Ekofeminisme yang lahir dari gerakan sosial dan feminis, isu perdamaian, dan isu ekologi sekitar pada tahun 1970-an dan awal tahun  1980-an. Namun baru populer dalam kaitannya dengan proses dan tindakan yang menentang para perusak lingkungan hidup (alam), yang awalnya menjadi asbab adalah datangnya bencana ekologis secara berulang-ulang sehingga membuat pemikiran baru untuk berpikir apa dan mengapa bencana ekologis datang secara berulang.

Bila kita bicara tentang ekofeminisme maka, secara tidak langsung diskusi pembahasannya adalah tentang adanya ketidakadilan di dalam masyarakat terhadap perempuan. Ketidak adilan yang terjadi pada perempuan ini berangkat dari pengertian adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh manusia terhadap non-manusia (alam/lingkungan). Hal ini karena perempuan selalu dikontekskan dengan alam maka secara konseptual, simbolik, dan linguistic ada kaitannya antara isu feminis dan isu ekologis. Bahkan dijelaskan didalam E-Journal dengan judul ekofeminisme dan peran perempuan dalam lingkungan menjelaskan Seorang ekofeminis bernama Karen J. Warren mengatakan bahwa “keterkaitan tersebut tentunya tidak mengherankan mengingat bahwa masyarakat kita dibentuk oleh nilai, kepercayaan, pendidikan, tingkah laku yang menggunakan kerangka kerja patriarkhi, dimana ada justifikasi hubungan dominasi dan subordinasi, penindasan terhadap perempuan oleh laki-laki”. 

Sederhananya adalah seperti ini perempuan yang “di-Feminin kan” berkaitan dengan aktivitas seperti diperkosa, dipenetrasi, digarap, dieksploitasi, dan lain sebagainya yang sejenis. Perhatikan bahwa kata-kata tersebut adalah kata-kata yang dipakai dalam menunjukan aktivitas terhadap alam juga. Misalnya tanah yang digarap, bumi yang dikuasai, dan hutan yang diperkosa, serta tambang yang dieksploitasi. Jadi, bukan ilusi jika perempuan dan alam mempunyai kesamaan semacam simbolik karena sama-sama ditindas oleh manusia yang bercirikan maskulin. Kerusakan terhadap alam, membuat dasar pemikiran tersebut sehingga para feminis harus menyadari tentang keterkaitan antara perempuan dengan alam. Hal yang lebih penting lagi adalah perlu digaris bawahi disini adanya model relasi dominasi di dalam wacana lingkungan hidup.  

Realitas yang ada bahwa banyak isu yang semakin memojokkan yang sering ditemui yang memberikan masalah antara perempuan dan alam, di era pembangunan ini maka berbagai hal yang harus dihadapi dan diselesaikan secara logis, hilangnya tanah atas ruang lingkup masyarakat adat dan perempuan semakin banyak dengan hadirnya para perusak lingkungan, perempuan yang awalnya mayoritas memanfaatkan sumber makanan dan mata pencaharian. Hal tersebut membuat para perempuan harus berpikir keras untuk beralih mencari sumber makanan dan beralih profesi. Sehingga tanpa disadari hal yang dilakukan terhadap alam semakin melunturkan nilai-nilai kebudayaan. 

Dilansir oleh Mongabay.co.id menceritakan tentang mama Aleta Baun (aktivis lingkungan), dalam perjuangan mempertahankan lingkungan dari cengkraman tambang di Gunung Mutis, Molo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gunung mutis memiliki keanekaragaman hayati yang ditinggi. Yang merupakan daerah hulu untuk semua aliran sungai utama Timor Barat, yang menjadi pemasok air tak hanya itu masyarakat mencari makanan dan obat-obatan dari hutan, dan menanam hasil bumi ditanah yang subur itu. Bahkan sebagai pewarna alami tenunan diperoleh tumbuh-tumbuhan yang alami. Bahkan hingga hubungan spiritual warga dan lingkungan begitu kuat. 

Hal diatas menunjukan bahwa keterkaitan Ekofeminisme dalam usaha menjaga budaya yang ada. Sebuah paradigm besar yang menuntun kita untuk berpikir lebih tentang riset feminis dan keadilan lingkungan adalah konsep yang setara untuk layanan terhadap perempuan. Wawasan yang disumbangkan oleh ekofeminisme dalam dunia kebudayaan merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk dimasa depan. Ekofemisme juga sangat

menitikberatkan kepada akhir dari permainan kekuatan, dan mulai berbagai serta mulai membangun solidaritas satu sama lainnya. Semangat untuk berbagai juga menjadi tiang utama untuk bertahan hidup dan membangun segalanya diperlukan hubungan cinta kasih dan keadilan, untuk membangun kebudayaan dengan gaya hidup yang eco-friendly atau women-friendly. Berdamai dengan alam juga indah, sekian terima kasih, aku, kamu dan kita semua mulailah sama-sama menjaga alam dengan sebaik-baiknya.(*)