Morotai Akan Hadirkan Wisata Observasi Penyu Hijau

Penyu Hijau

DARUBA – Sejak tahun 1990, Penyu sudah menjadi salah satu hewan laut yang dilindungi oleh Pemerintah.

Bahkan, dalam rangka melakukan penertiban terhadap pemanfaatan Penyu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga telah menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya.

Saat ini, penyu mulai menjelma menjadi icon wisata. Banyak daerah di Indonesia yang memanfaatkan habitat hewan tersebut untuk menarik kunjungan wisatawan.

Terkecuali di Kabupaten Pulau Morotai. Dimana, tempat bertelur Penyu di pantai desa Tiley Pantai yang sudah berlangsung bertahun-tahun, tidak pernah dimanfaatkan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat sebagai potensi wisata.

Potensi ini baru pertama kali diperkenalkan oleh Kepala Desa (Kades) Tilei Pantai, Nolvis T, yang baru dilantik dua bulan yang lalu.

Nolvis mengaku pantai di desanya sudah menjadi tempat bertelur Penyu hijau sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja, kehadiran Penyu itu tidak pernah dimanfaatkan oleh Pemdes setempat sebagai objek wisata.

Barulah, kata dia, saat dirinya terpilih menjadi Kades, potensi tersebut akan menjadi hal utama untuk digarap, guna meningkatkan pendapat warganya.

“Saat ini wilayah pantai itu saya sudah jadi kawasan observasi Penyu hijau. Jadi sudah terlindungi. Bahkan beberapa waktu lalu saya sudah bentuk komunitas Remaja Pecinta Penyu Tilei Pantai (Reptil). Tugasnya mengawasi lokasi observasi, dan melakukan pemeliharaan. Karena target kita kedepan tempat itu harus jadi objek wisata,” ujar Norvis kepada Fajar Malut, Selasa (2/8/2022).

Untuk memperkenalkan potensi ini ke masyarakat luas, lanjutnya, Pemdes Tilei Pantai rencananya akan mengundang Pj Bupati, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), dan Dinas Pariwisata (Dispar) untuk melakukan acara pelepasan 31 ekor anak Penyu di pantai dimana Penyu itu menetas.

“Saya sudah koordinasi, dan direspon positif oleh Pemerintah Daerah, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Bahkan tahun depan Dispar rencana buat event di lokasi itu,” katanya.

Selain itu, menurut Nelvis, ada sebanyak 100 butir telur Penyu yang saat ini sudah dalam pengawasan komunitas Reptil di lokasi. 100 telur itu hanya berasal dari satu induk penyu.

“100 telur itu diprediksi akan menetas diatas tanggal 20 Agustus bulan ini. Karena Penyu jenis ini (Penyu hijau), itu masa menetasnya diatas 51 hari,” timpal Nelvis.

Dia optimis, jika potensi ini dimanfaatkan dengan baik, maka bisa menghasilkan pundi-pundi uang bagi masyarakat setempat.

“Saya sudah bilang ke warga saya, ini harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Kedepan tempat ini harus di tata rapi, buat warung, biar ketika orang berkunjung sini bisa beli sesuatu. Kalau ini berhasil saya yakin bisa menambah pendapatan bagi masyarakat disini,” ucapnya.

Untuk mendorong kawasan observasi Penyu di wilayahnya, tambah Nelvis, dirinya juga sudah membatasi warganya untuk melakukan aktivitas pengambilan pasir di kawasan itu.

“Bisa ambil untuk kebutuhan pembangunan rumah, tapi ada tempat khusus yang kita siapkan yaitu di depan bantaran sungai,” tukas Nelvis. (fay)