Bambang Wedarto juga mengatakan, ada beberapa kendala yang dialami oleh kelompok usaha, yakni terkait pakan yang cukup mahal. Dan harus dibeli dari luar, dengan harga per sak 650 ribu.
“Pakan dibeli dari Tobelo dan cukup jauh, kendala kedua adalah belum ada mantri hewan atau dokter hewan sehingga ada beberapa penyakit yang kemudian tidak bisa kami atasi, baik itu bebek maupun usaha ternak yang lain,” pungkasnya.
Dikatakannya, dari 500 ekor ada beberapa yang mati, kemudian SDM nya juga, terutama penangan penyakit hewan. “Karena itu kita butuh dukungan dari berbagai pihak utamanya obat dan pakan,” jelas Camat.
Sebagaimana diketahui dari tota 1000 ekor kemudian yang panen perdana sebanyak 300 ekor lebih, dengan harga antara Rp 90.000 sampai Rp100.000 per ekor. “Jadi kalau 300 ekor itu Rp30 juta lebih dalam 40 sampai dengan 45 hari,” urainya.
Camat Weda Selatan menyampaikan, apabila jumlah bebek ditingkatkan menjadi 10.000 ekor, itu berarti uang yang berputar dan dikelola oleh kelompok serta masyarakat itu cukup luar biasa.
“Ini saya yakin dan percaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan di Halteng yang sama-sama pak Bupati lagi berusaha keras menurunkannya,” pungkasnya.
