WEDA – Kebijakan penanganan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 di sektor Ketahanan Pangan, harus mengacu pada prinsip kedaulatan pangan dan memberikan kemakmuran petani.
Dalam rangka itu, Pemkab Halteng melalui Dinas Ketahanan Pangan melakukan pencanangan budidaya pangan lokal Kabupaten Halteng tahun 2020. “Dengan pangan lokal kita tingkatkan ketersediaan logistik pangan masyarakat mengantisipasi dampak Covid-19,” ucap Bupati Halteng, Edi Langkara saat memberikan sambutan dalam pencanangan tersebut.
Elang menyampaikan, pencanangan ketahanan pangan harus ditingkatkan. Pasalnya mayoritas masyarakat Halteng berpijak pada sektor riil ada tiga sentra produksi, yaitu Wairoro, Trans Kobe Kulo dan Trans Waleh.
”Namun yang produktif itu hanya di Wairoro yang memberikan harapan besar. Untuk itu bagaimana menghadapi problem di Kobe Kulo dan Waleh ini yang harus diatasi oleh dinas terkait (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan),” ucap Edi.
Edi menginstruksikan tiga kawasan ini segera dimaksimalkan demi ketahanan pangan. Sementara Kobe Kulo dan Waleh belum bisa ditanami padi, maka bisa ditanami pangan lokal. “ Yang anehnya di setiap kegiatan di Distan kita tanam bersama, tapi tidak ada panen bersama. Akhirnya kita tidak dapat hasilnya,” paparnya.
“Contoh di Trans Kobe dengan volume 100 ha penanaman jagung, namun sampai saat ini tidak ada panen raya,” akunya.
Karena itu, Kabupaten Halteng berkomitmen untuk mengatasi penurunan produksi pangan melalui berbagai kebijakan yang responsif maupun antisipatif. Apalagi Halteng merupakan kawasan industri nasional dengan berbagai perusahan pertambangan, maka komoditas pangan harus dipacu, jika tidak, jenis berbagai pangan itu akan disuplai dari luar Halteng.
“Saat ini memang kita tidak bisa batasi masuknya produksi pangan lokal dari luar Halteng, tapi kedepan Halteng harus mampu menyediakan ketersediaan pangan itu,” akunya. Ketersediaan pangan yang harus disediakan adalah pisang, ubi bakar, ubi kayu, keladi, sayur mayur, cabai dan sebagainya. (udy)

