“Ketika sejarah Enrique ini membuktikan bahwa beliau merupakan seorang pemuda dari Tidore, maka dari sini orang-orang akan terus mencari tahu tentang Tidore itu sendiri, ini juga salah satu langkah awal untuk mempromosikan daerah ini,” kata Mochtar.
Mochtar juga mengharapkan agar diskusi tidak berakhir sampai disini saja namun terus berlanjut untuk kedepan lebih baik.
“Kami akan siap mendukung seminar yang nantinya dilakukan, agar sama-sama kita dapat mempromosikan Tidore ini kedepan dengan sejarah-sejarah yang ada,” harap Mochtar.
Sementara, Direktur Rorano Maluku Utara Asgar Saleh menjelaskan, sejarah Enrique menjadi perbincangan serius public yang merupakan salah satu pemuda Indonesia yang mengikuti ekspedisi mengelilingi dunia.
Asgar menambahkan, dari beberapa literatur mengatakan kalau Enrique maluku pengeliling dunia pertama berasal dari Tidore, karena itu, upaya menyusuri jejak Enrique yang di sebut Jojo sapaan universal untuk laki-laki dewasa di Tidore, bukan semata glorifikasi masa lalu.
Menuliskan ulang sejarah perjalanan Enrique kecil dari Tidore yang melayari belahan dunia dari sisi Timur dan kembali ke kampungnya dengan rute pelayaran di bagian barat dengan riset yang serius berbasis data yang kredibel adalah bagian dari “Hystorical Necessary”. Sebuah keharusan sejarah.
Ia tak sekedar membantah klaim sejarah yang tak lurus tapi juga sebagai ikhtiar kolektif untuk mewariskan sebuah Identitas Nasional. Menegaskan bahwa kita adalah bangsa maritim terbesar dengan jejak yang jelas terbaca dalam bingkai nilai “Toma Loa Se Banari”.
“Saya menyetujui untuk dilakukan seminar tentang sejarah Enrique Maluku pengeliling dunia pertama, karena banyak literature mengatakan Enrique berasal dari Tidore.” kata Asgar. (hms)
