TERNATE – Membangun generasi sehat tidak cukup dimulai dari fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya tersebut harus dimulai sejak anak berada di lingkungan sekolah, tempat perilaku, kebiasaan, dan karakter hidup sehat dibentuk sejak dini.
Atas dasar itu, penguatan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. Untuk mendorong hal tersebut, Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Implementasi Kesehatan Sekolah/Madrasah di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, pada 2–3 November 2026.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum evaluasi program, tetapi juga momentum untuk melihat kembali sejauh mana sekolah telah menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan peserta didik, sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih perlu dibenahi. Salah satu hal penting yang menjadi perhatian adalah penguatan Trias UKS, yakni pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Pendidikan kesehatan perlu diterjemahkan menjadi perilaku hidup sehat dalam keseharian siswa. Pelayanan kesehatan harus mampu mendukung deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan anak sekolah. Sementara itu, lingkungan sekolah harus memberikan ruang yang aman, bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, M.Kes, menegaskan bahwa keberhasilan UKS/M membutuhkan komitmen bersama dan tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.
“UKS/M harus kita dorong agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau pemenuhan administrasi semata. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai kesehatan benar-benar menjadi budaya di lingkungan sekolah. Anak-anak kita tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, Kementerian Agama, pemerintah daerah, serta seluruh warga sekolah menjadi kunci agar penyelenggaraan UKS/M dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut, para peserta melakukan identifikasi permasalahan dan isu prioritas penyelenggaraan UKS/M melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD).
Pembahasan mencakup berbagai aspek penyelenggaraan UKS/M, mulai dari kebijakan, pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, pembinaan lingkungan sekolah sehat hingga tata kelola program. Penguatan juga dilakukan melalui pengenalan Dashboard Stratifikasi UKS/M. Instrumen ini menjadi bagian penting dalam mengukur tingkat perkembangan pelaksanaan UKS/M di sekolah melalui asesmen mandiri.
Dengan adanya stratifikasi tersebut, kondisi penyelenggaraan UKS/M diharapkan dapat dipetakan secara lebih sistematis sehingga kebutuhan pembinaan dan perbaikan dapat ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing sekolah.
Kegiatan ini melibatkan lintas sektor Pemerintah Kota Ternate, perwakilan Puskesmas, sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA, serta penanggung jawab UKS dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara. Tidak berhenti pada diskusi dan pengisian instrumen, rangkaian Monev juga dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke SMP Negeri 2 Kota Ternate sebagai salah satu sekolah model terpilih.
Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung penerapan Trias UKS sekaligus meninjau kesiapan tata kelola kesehatan di lingkungan sekolah. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, disusun kesepakatan dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai dasar bagi penguatan implementasi UKS/M ke depan.
Pada akhirnya, keberhasilan UKS/M bukan hanya diukur dari keberadaan ruang UKS, kelengkapan administrasi, atau terlaksananya kegiatan pemeriksaan kesehatan. Lebih dari itu, keberhasilannya tercermin dari tumbuhnya budaya hidup sehat, meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan, serta terciptanya lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Sebab, sekolah yang sehat bukan hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan dirinya, lingkungannya, dan masa depannya.*
