Halmahera Tengah saat ini telah berkembang dan menjadi miniatur nusantara karena banyak suku, bangsa, agama dan ras hidup bersama berinteraksi satu dengan yang lain.
“Untuk itu, dalam menghadapi dinamika dan perkembangan ini, kita harus benar-benar mampu memposisikan diri agar benar-benar siap menerima dan berinteraksi secara terbuka, positif dengan seluruh komponen bangsa yang ada di daerah ini dengan tetap merawat tradisi untuk memberikan warna dalam harmoni kebhinekaan nusantara,” ucapnya.
Jika menelaah secara mendalam, maka tentu akan menemukan makna Fagogoru sebagai ruang semesta dari totalitas kebudayaan dan peradaban manusia, dimana seluruh komponen yang ada di dalam ruang itu mau atau tidak mau, pasti akan terikat secara utuh dalam dimensi kesemestaan Fagogoru.
“Fagogoru lahir dari kontemplasi yang sangat panjang dan mendalam dari para leluhur, yang mampu menerjemahkan penekanan atas makna Mahabbah (cinta) ke arah idealisme emosional yang dibatinkan secara murni,” akunya.
Dikatakannya, Fagogoru itu intisari dari cinta kasih, yang merupakan pangkal dari semua tingkatan rohani manusia yang meliputi keinginan, kerinduan, harapan, kerelaan, keikhlasan, saling menghormati, berbudi pekerti luhur, bertutur kata yang sopan termasuk rasa takut dan malu yang kemudian diinternalisasikan oleh para leluhur menjadi nilai-nilai ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat serta takut dan malu sebagai unsur utama yang dimanifestasikan dalam ruang semesta Fagogoru dan menjadi kompas kekerabatan, namun tetap dalam konteks harmoni kebhinekaan nusantara.
