DARUBA – Sikap kehati-hatian anggota DPRD Pulau Morotai dalam menghadapi pengunjuk rasa mulai terlihat pasca kericuhan yang terjadi dalam aksi demontrasi 25 Agustus disejumlah wilayah di Indonesia.
DPRD Morotai yang sebelumnya terlihat cuek bila di demo, mulai menunjukan sikap yang berbeda.
Pantauan Fajar Malut dalam aksi unjuk rasa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasifik (Unipas) Pulau Morotai yang berlangsung di Kantor DPRD, Senin (1/9/2025), terlihat hampir seluruh anggota DPRD Morotai kompak hadir menemui pendemo.
Dari jumlah 19 anggota DPRD Morotai, ada sebanyak 15 anggota yang hadir terkecuali Wakil Ketua 2 Erwin Sutanto, Suhari Lohor, Richard Samatara, dan Fenny Tongo-Tongo.
Aksi sempat memanas ketika para mahasiswa mencoba menerobos masuk ke halaman Kantor DPRD. Hanya saja, penjagaan ketat yang dilakukan aparat Kepolisian dan dibantu Satpol PP, para mahasiswa berhasil ditahan masuk di pintu gerbang. Aksi saling dorong kedua belah pihaknya pun tak terelakan.
Namun, situasi mampu dikendalikan dengan cepat oleh aparat keamanan, sehingga proses penyampaian aspirasi kembali berjalan aman.
Demi menjaga situasi tetap kondusif, para anggota DPRD pun berbondong-bondong keluar dari kantornya, dan meminta hering bersama mahasiswa di jalan. Mereka pun rela disuruh duduk melantai di jalan aspal bersama pendemo.
Dari hering tersebut, suasana yang sebelumnya tegang, berubah menjadi sejuk. Para mahasiswa pun satu per satu menyuarakan aspirasinya. Diketahui, ada tiga tuntutan yang disampaikan pendemo dalam aksi tersebut yaitu mendesak Pemda dan DPRD Pulau Morotai agar segera menyelesaikan masalah sengketa lahan antara warga dan TNI Angkatan Udara.
Mendesak Pemda segera mencarikan solusi terkait anjloknya harga ikan Tuna di Morotai yang menyebabkan menurunnya pendapatan nelayan, dan masalah beasiswa akhir studi sebagian mahasiswa Unipas Pulau Morotai yang belum terbayar. (fay)

