Kita pahami bahwa Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip fundamental dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Salah satu pesan penting dan utama dalam momentum hijrah adalah keadilan.Karena itu, pembangunan yang berorientasi pada nilai harus memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, tantangan keadilan pembangunan masih menjadi persoalan yang serius.Ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, antara kawasan barat dan timur Indonesia, maupun antara pusat dan daerah masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi.Dalam banyak kasus, pembangunan lebih terkonsentrasi pada wilayah-wilayah yang telah maju, sementara daerah-daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar.
Bagi daerah kepulauan seperti Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau, isu keadilan pembangunan memiliki makna yang sangat penting. Karakteristik geografis yang terdiri atas banyak pulau menimbulkan tantangan tersendiri dalam penyediaan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan di daerah kepulauan tidak dapat diukur hanya dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan keadilan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terluar dan terpencil. Artinya, pembangunan yang berkeadilan berarti memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh manfaat pembangunan tanpa memandang lokasi geografis, latar belakang sosial, maupun kondisi ekonominya.
Pada ruang yang lain, permasalahan pembangunan manusia menjadi isu penting. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui konsep Human Development menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan adalah memperluas pilihan hidup manusia.Dalam perspektif ini, pembangunan bukan sekadar meningkatkan pendapatan, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.Konsep ini sejalan dengan nilai-nilai hijrah yang menempatkan manusia sebagai pusat perubahan.Oleh karena itu, pembangunan yang berorientasi pada nilai harus memberikan perhatian yang lebih besar pada pembangunan sumber daya manusia.
Investasi pada pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang merata, penguatan karakter generasi muda, serta pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Infrastruktur memang penting, tetapi infrastruktur tanpa manusia yang berkualitas tidak akan menghasilkan kemajuan yang berkelanjutan.Dalam era globalisasi dan transformasi digital saat ini, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Negara atau daerah yang mampu membangun manusia yang cerdas, kreatif, berintegritas, dan berkarakter akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Tahun Baru Hijriah mengajak kita untuk merenungkan kembali makna pembangunan yang sesungguhnya.Apakah pembangunan hanya tentang pertumbuhan ekonomi?Apakah pembangunan hanya tentang banyaknya proyek yang diresmikan?Apakah pembangunan hanya tentang angka-angka yang tercantum dalam laporan tahunan?Jawabannya tentu tidak.
